Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

5.209 Warga Israel Masuki Al Aqsa, Dua Warga Palestina Tewas

Sebanyak 5.209 warga Israel memasuki kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur selama Agustus, disertai penembakan yang menewaskan dua warga Palestina dan penahanan 114 orang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.53 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
5.209 Warga Israel Masuki Al Aqsa, Dua Warga Palestina Tewas
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Provinsi Yerusalem melaporkan aksi masuknya 5.209 warga Israel ke kompleks Masjid Al Aqsa pada bulan Agustus, yang menjadi catatan tertinggi dalam sejarah pengunjungan oleh warga negara Israel ke kawasan tersebut. Aksi tersebut berlangsung secara terus-menerus sepanjang bulan, dengan puncaknya terjadi pada 13 Agustus ketika jumlah pengunjung mencapai 751 orang dalam satu hari. Polisi Israel diketahui memberikan perlindungan kepada kelompok pengunjung, yang melakukan ritual keagamaan Yahudi di area sekitar gerbang masjid.

Dalam periode yang sama, pasukan Israel menewaskan dua warga Palestina, melukai 83 orang, dan menahan 114 orang, termasuk lima anak di bawah umur. Data ini juga mencatat adanya 44 serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka, serta 40 operasi pembongkaran dan pembersihan lahan yang menargetkan rumah, bangunan, dan tanah di wilayah Yerusalem. Sebanyak 86 perintah pembongkaran atau penghentian pekerjaan dikeluarkan oleh otoritas Israel selama bulan tersebut.

Otoritas Wakaf Islam di Yerusalem menegaskan bahwa Al Aqsa adalah situs suci bagi umat Islam dan menyerukan penghentian segera terhadap semua bentuk penyerbuan. Lembaga tersebut menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mengubah karakter wilayah Yerusalem Timur yang telah lama menjadi bagian dari identitas Arab dan Islam. Mereka menekankan bahwa kota ini tetap menjadi ibu kota potensial bagi negara Palestina yang diidamkan.

Kondisi ini terjadi dalam konteks ketegangan yang meningkat sejak konflik militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Peningkatan penggerebekan, penangkapan, dan kekerasan terhadap warga Palestina di kota-kota, permukiman, dan kamp pengungsi di Tepi Barat, termasuk Yerusalem, menjadi tren yang terus berlanjut. Laporan media Israel juga menyebut bahwa kebijakan pemerintahan saat ini didorong oleh keinginan untuk memperkuat posisi politik menjelang pemilu Knesset pada 27 Oktober.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya