Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengancam Rute Penerbangan dan Kesehatan Masyarakat

Badan Geologi memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memantau sebaran abu vulkanik Anak Krakatau yang menyebar hingga ketinggian 50.000 kaki dan mengancam keselamatan penerbangan serta kesehatan warga di sekitar wilayah rawan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 19.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengancam Rute Penerbangan dan Kesehatan Masyarakat
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Badan Geologi Kementerian ESDM memperketat sinergi antarinstansi guna menangani dampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, khususnya terhadap keselamatan penerbangan sipil. Koordinasi ini dilakukan melalui sistem Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) yang dapat diakses publik melalui aplikasi MAGMA Indonesia, memastikan informasi real-time tersedia bagi operator penerbangan dan pemangku kebijakan.

Pemantauan berbasis data citra satelit Himawari dan pengamatan dari stasiun Volcanic Ash Advisory di Darwin menunjukkan sebaran abu dalam tiga lapisan ketinggian. Pada ketinggian sekitar 50.000 kaki, gumpalan abu pekat teramati bergerak ke arah barat daya melintasi Samudra Hindia. Di ketinggian sekitar 20.000 kaki, aktivitas emisi abu masih aktif dan terbawa angin dominan ke barat, sementara sisa debu halus dari erupsi sebelumnya terpantau bergerak ke timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan.

Untuk menjaga keselamatan masyarakat, Badan Geologi bekerja erat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait lainnya. Siti Sumilah Rita Susilawati, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat di kawasan rawan, terutama dalam penggunaan masker pelindung. Partikel abu yang sangat halus berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang rentan terhadap paparan.

Pemantauan terus dilakukan secara intensif hingga pukul 10.30 WIB, dengan hasil pemetaan sebaran yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan mitigasi. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mencegah risiko serius baik dari sisi transportasi udara maupun kesehatan masyarakat di wilayah sekitar kawasan gunung berapi aktif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya