Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Abu Vulkanik Ancam Keselamatan Penerbangan, Ini Alasannya

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu penyebaran abu vulkanik yang memaksa pembatalan sejumlah penerbangan akibat risiko tinggi bagi mesin dan sistem pesawat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.37 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Abu Vulkanik Ancam Keselamatan Penerbangan, Ini Alasannya
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejak akhir pekan lalu, operasional penerbangan di sejumlah bandara di Indonesia mengalami gangguan berat akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Penutupan sementara area udara dilakukan sebagai langkah pencegahan menyusul kekhawatiran terhadap potensi bahaya yang ditimbulkan oleh partikel halus hasil erupsi gunung berapi tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa abu vulkanik bukan sekadar debu biasa, melainkan material mikroskopis yang berpotensi mengganggu semua aspek keselamatan penerbangan.

Material ini terdiri dari serpihan batuan, silika SiO2, dan kristal mineral tajam yang bersifat sangat abrasif. Ketika pesawat terbang melalui awan abu pada ketinggian tinggi, gesekan partikel-partikel keras ini menyebabkan kerusakan mekanis serius. Permukaan kaca kokpit dapat menjadi buram akibat pengikisan seperti amplas, sementara sensor dinamika udara seperti pitot tube yang menentukan kecepatan udara bisa rusak. Bahkan, bilah turbin mesin jet juga rentan terkikis, menurunkan efisiensi dan potensi kegagalan sistem.

Kekhawatiran utama muncul dari dinamika termal di dalam mesin turbofan. Suhu ruang bakar mesin jet mencapai 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius, jauh melampaui titik leleh silika dalam abu vulkanik yang sekitar 1.100 derajat Celsius. Ketika abu terhisap masuk, partikel silika meleleh, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca di bagian turbin yang lebih dingin. Penumpukan ini menghambat aliran udara, menyebabkan engine stall hingga flamenout total—kemungkinan kegagalan mesin yang berakibat fatal.

Selain kerusakan fisik, abu vulkanik juga berpotensi merusak sistem elektronik dan komunikasi. Gesekan antarpartikel halus yang bergerak cepat menghasilkan muatan listrik statis ekstrem, memicu fenomena St. Elmo’s Fire di kaca kokpit dan mengganggu sinyal radio. Komposisi asam pada abu juga dapat menyebabkan korosi cepat pada perangkat elektronik sensitif serta mencemari sistem pengkondisi udara kabin, yang berisiko mengganggu kesehatan kru dan penumpang. Dengan semua risiko ini, penutupan bandara menjadi langkah strategis demi mencegah kecelakaan penerbangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya