Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa, Bahaya Mengintai Kesehatan

Material abu vulkanik mengandung partikel tajam yang berpotensi menyebabkan iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit jika terpapar secara langsung.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa, Bahaya Mengintai Kesehatan
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Abu vulkanik yang muncul akibat erupsi gunung api bukan sekadar debu biasa, melainkan campuran material berbahaya yang mengandung kaca vulkanik, kristal, dan fragmen batuan tajam. Partikel-partikel ini dapat menimbulkan iritasi serius pada saluran pernapasan, mata, dan kulit, terutama ketika terhirup atau terpapar dalam jumlah besar. Badan Geologi menegaskan bahwa paparan berkepanjangan dapat memicu gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk gangguan paru-paru dan masalah kulit kronis.

Sebaran abu vulkanik yang luas dapat mengganggu aktivitas harian masyarakat, termasuk transportasi, pertanian, dan kesehatan publik. Untuk meminimalkan risiko, masyarakat di sekitar kawasan aktif diminta melakukan langkah mitigasi secara rutin. Ini termasuk penggunaan masker yang efektif seperti N95 atau masker medis, penutupan celah rumah agar abu tidak masuk, serta perlindungan mata dengan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.

Pembersihan secara berkala dari permukaan seperti jendela, teras, dan atap juga penting untuk mencegah akumulasi abu yang dapat menimbulkan beban struktural atau mengganggu sistem ventilasi. Selain itu, disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kondisi abu padat dan berkepadatan tinggi. Upaya ini menjadi kunci dalam menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat di wilayah rawan erupsi.

Status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga), sehingga masyarakat dilarang masuk ke dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Wilayah tersebut berisiko tinggi terhadap awan panas, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi tidak benar terkait ancaman tsunami. Semua keputusan dan arahan harus mengacu pada petunjuk resmi dari BPBD setempat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya