Antrean BBM di Makassar Disebabkan Perubahan Pola Konsumsi dan Penimbunan
Kementerian ESDM mengungkap penyebab antrean panjang di SPBU Makassar akibat pergeseran konsumsi ke BBM subsidi dan praktik penimbunan ilegal oleh oknum.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 07.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa antrean panjang di sejumlah SPBU di Makassar disebabkan oleh dua faktor utama: pergeseran pola konsumsi masyarakat dan adanya penimbunan BBM subsidi oleh oknum tertentu. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa sebagian besar pengguna beralih dari BBM non subsidi seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) ke Pertalite (RON 90) karena harga yang lebih terjangkau.
Dalam penjelasannya, Bahlil menyoroti temuan polisi terhadap oknum yang menggunakan kendaraan bermotor besar, termasuk mobil tangki hingga kapasitas 1 ton, untuk menimbun BBM subsidi. Beberapa kendaraan yang digunakan, seperti Pajero dan jenis lainnya, menunjukkan upaya sengaja untuk memanfaatkan perbedaan harga antara BBM subsidi dan non subsidi. Praktik ini, menurutnya, memicu kelangkaan stok di SPBU dan memperparah antrean.
Bahlil menjelaskan bahwa arahan langsung dari Presiden Prabowo telah diterima untuk segera menertibkan situasi. Koordinasi intensif telah dilakukan bersama PT Pertamina (Persero) untuk memastikan distribusi BBM kembali normal. Kondisi penumpukan di Makassar kini telah terurai secara signifikan, menunjukkan efektivitas langkah penanganan yang diambil.
Ia juga menekankan bahwa kenaikan harga minyak dunia hingga di atas US$ 100 per barel turut menjadi pemicu pergeseran konsumsi. Meski harga minyak global naik, harga BBM bersubsidi tetap tidak dinaikkan, sehingga mendorong masyarakat beralih ke produk yang lebih murah. Bahlil menegaskan bahwa subsidi harus benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak, bukan oleh kelompok yang mampu membeli BBM non subsidi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Influenza A Melonjak, Anak Usia Dini Paling Terdampak
Kenaikan kasus influenza A kini terjadi secara nasional, dengan anak usia 0–4 tahun menjadi kelompok paling banyak terinfeksi, meski fasilitas kesehatan tetap stabil.
18 September 2026

74 WNI Masih di Mocha, Kemlu Pantau Kondisi Secara Berkala
Kementerian Luar Negeri melaporkan 74 pelajar WNI masih berada di Kota Mocha, Yaman, dalam situasi ketegangan regional yang terus dipantau secara intensif.
18 September 2026

Menlu Wakili Prabowo di Sidang PBB 2026
Menteri Luar Negeri Sugiono akan memimpin delegasi Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, sesuai arahan Presiden Prabowo yang fokus pada isu domestik.
18 September 2026

Hujan Lebat Picu Banjir di Mogadishu, Pemerintah Bentuk Tim Tanggap Darurat
Hujan deras semalaman mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah Mogadishu, merusak rumah dan mengganggu akses, menyebabkan pemerintah daerah membentuk komite tanggap darurat untuk penanganan darurat.
18 September 2026
Berita Lainnya

Xiaomi Perkenalkan Tiga Perangkat Wearable Baru dengan Fitur Kesehatan dan Daya Tahan Tinggi
Jumat, 18 September 2026, 07.37 WITA

Prabowo Ungkap Skema Ekspor Satu Pintu untuk Hentikan Kebocoran Negara
Jumat, 18 September 2026, 07.36 WITA

RUU Keuangan Negara Harus Diposisikan sebagai Alat Politik Ekonomi
Jumat, 18 September 2026, 07.36 WITA

Rasio Pajak RI Mendekati 10%, DPR Soroti Kinerja Penerimaan
Jumat, 18 September 2026, 07.36 WITA

Subsidi BBM Pakistan Diterapkan, Warga Kesulitan Akses
Jumat, 18 September 2026, 07.33 WITA

Adhi Karya Minta Maaf, Janji Tuntaskan Proyek LRT City
Jumat, 18 September 2026, 07.33 WITA

Haji Isam Siap Akuisisi 30% Saham BYAN, Nilai Kepemilikan di Tiga Emiten Capai Rp93 Triliun
Jumat, 18 September 2026, 07.32 WITA

Mal Senayan City Tanggapi Viral Tindakan Kekerasan di Food Court
Jumat, 18 September 2026, 07.30 WITA


