Jumat, 18 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Arab Saudi Atur Ulang Jalur Ekspor Minyak

Penyesuaian rute ekspor minyak Saudi melalui Selat Hormuz menekan harga global, meski ada gangguan sementara pada pipa Timur-Barat dan penutupan terminal Yanbu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Arab Saudi Atur Ulang Jalur Ekspor Minyak📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Arab Saudi memperbarui strategi distribusi minyak mentah dengan mengalihkan sebagian ekspornya melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz, menanggapi gangguan teknis dan ancaman keamanan maritim. Perubahan ini dilakukan setelah pipa minyak utama Timur-Barat mengalami kerusakan akibat serangan drone dari Irak, yang memaksa penutupan sementara jalur distribusi utama. Seiring itu, terminal ekspor di Yanbu di Laut Merah dihentikan sementara, mengurangi volume pengiriman ke Eropa.

Dalam proses penyesuaian, kapal tanker Saudi melakukan transfer minyak secara kapal-ke-kapal di dekat pelabuhan Sohar, Oman, sehingga menghindari risiko serangan di Selat Hormuz. Data dari Kpler menunjukkan volume transfer antar kapal di Teluk Oman meningkat drastis menjadi 2,7 juta barel per hari, jauh melampaui rata-rata 1,5 juta barel per hari pada Agustus 2026. Peningkatan ini mencerminkan respons cepat terhadap ketidakpastian pasokan.

Harga minyak dunia merespons positif terhadap kebijakan tersebut, dengan kontrak berjangka Brent turun US$1,01 menjadi US$104,82 per barel pada perdagangan Kamis. Minyak WTI AS juga mengalami penurunan 52 sen, menutup di level US$101,91. Meski demikian, harga minyak mentah AS masih naik hampir 2% dalam sepekan dan lebih dari 18% sepanjang bulan, menunjukkan ketahanan pasar terhadap volatilitas jangka pendek.

Pihak Saudi dilaporkan menerima dukungan militer dari Amerika Serikat untuk memastikan kelancaran ekspor melalui rute alternatif. Menteri Energi AS menyebut gangguan pada pipa bersifat sementara dan diperkirakan berlangsung hanya beberapa hari. Namun, analis independen memperingatkan bahwa perbaikan infrastruktur bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, tergantung tingkat kerusakan. Rapidan Energy memperkirakan penurunan ekspor sebesar 400.000 barel per hari pada bulan ini, meski sebagian dapat tertutupi oleh peningkatan ekspor melalui jalur baru.

Kondisi ini menunjukkan kerentanan pasokan global terhadap gejolak geopolitik. Meski kini harga minyak mereda, ancaman tetap ada jika serangan terhadap infrastruktur maritim terus meningkat, baik dari Iran, kelompok Houthi, maupun aktor proksi lainnya. Stabilitas pasar minyak kini bergantung pada kemampuan Saudi menjaga kelancaran distribusi tanpa ketergantungan pada jalur yang rentan konflik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya