Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Perluas Ruang Kompromi Soal Pengayaan Uranium Iran

AS mulai membuka kemungkinan kompromi dengan Iran dengan menekankan pengurangan kapasitas pengayaan uranium, bukan penghentian total, sebagai syarat utama perundingan nuklir.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 12.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
AS Perluas Ruang Kompromi Soal Pengayaan Uranium Iran📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Amerika Serikat kini menunjukkan sikap yang lebih fleksibel dalam dialog dengan Iran terkait program nuklir, dengan tidak lagi menuntut penghentian total aktivitas pengayaan uranium. Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan bahwa fokus utama adalah pada pengurangan signifikan kapasitas pengayaan hingga tingkat 60%, sebagai bukti komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Ia menyoroti ketidaksesuaian antara kebutuhan energi dan pengayaan bahan bakar tingkat tinggi, yang menurutnya tidak masuk akal jika tujuan bukan militer.

Komunikasi antara pihak AS dan Iran tetap berlangsung, meskipun tidak sepenuhnya transparan mengenai mekanisme pengambilan keputusan di Teheran. Vance menyebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebagai mitra utama dalam proses diplomasi, namun mengakui adanya ketidakjelasan dalam proses internal kebijakan Iran. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio tetap bersikeras bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, menilai bahwa Teheran telah melewatkan banyak kesempatan untuk menyelesaikan isu ini secara damai.

Iran sendiri tetap skeptis terhadap niat AS untuk bernegosiasi secara serius. Pezeshkian menyebut perundingan dengan AS sebagai sia-sia dan menuding setiap upaya diplomasi diikuti dengan eskalasi militer. Ia menyatakan bahwa setiap kali pihaknya duduk di meja perundingan, serangan terhadap negaranya justru terjadi. Namun, Araghchi tetap membuka ruang untuk negosiasi, menekankan pentingnya pendekatan yang adil dan setara dalam menyelesaikan konflik regional.

Iran menuntut lebih dari sekadar kesepakatan nuklir, termasuk pencabutan sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, penghentian blokade laut, dan penghentian konflik di kawasan. Usulan sebelumnya mencakup penghentian semua pertempuran, pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari, serta pemulihan arus minyak Teluk hingga lebih dari 81% dari kapasitas normal sebelum konflik. Profesor Simon Mabon dari Universitas Lancaster menilai perubahan nada AS terkait pengayaan uranium sebagai tanda adanya ruang kompromi, meski tantangan besar tetap ada, terutama terkait keamanan jalur pelayaran.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya