Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asing Jual Bersih Rp424 Miliar, BUMI Pimpin Akumulasi Saham

Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp424 miliar hingga sesi I perdagangan, dengan BUMI jadi saham paling banyak dibeli.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Asing Jual Bersih Rp424 Miliar, BUMI Pimpin Akumulasi Saham
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada sesi pertama Senin (7/9/2026) menunjukkan dominasi aksi jual bersih dari investor asing, mencapai Rp424,06 miliar. Nilai pembelian asing tercatat sebesar Rp1,84 triliun, sementara penjualan mencapai Rp2,26 triliun. Pergerakan ini turut mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah 0,12% ke posisi 6.628,19, dengan sektor perbankan menjadi salah satu penekan utama kinerja pasar.

Di tengah tekanan jual, beberapa emiten justru menjadi incaran akumulasi asing. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham dengan nilai pembelian bersih terbesar, mencapai Rp218,87 miliar, didukung volume transaksi sekitar 998,13 juta saham. Sementara itu, emiten lain yang menarik perhatian asing antara lain Adaro Andalan Indonesia (AADI) dengan net buy Rp46,11 miliar, Bukit Asam (PTBA) Rp38,91 miliar, dan Karya Pacific Energy (IATA) Rp30,65 miliar.

Sementara itu, sejumlah saham besar mengalami tekanan jual terbesar dari asing. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi yang paling banyak dijual dengan nilai jual bersih Rp81,67 miliar, disusul BBCA (Rp73,14 miliar), CUAN (Rp66,06 miliar), BBRI (Rp65,58 miliar), dan KLBF (Rp60,01 miliar). Emiten lain yang juga mengalami penjualan asing signifikan antara lain BMRI, GOTO, INET, TINS, dan EMAS, masing-masing dengan nilai jual bersih di atas Rp20 miliar.

Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang menguat signifikan, mencatat kenaikan 1,42% pada sesi I, menjadi penopang kinerja pasar meski tidak mampu menahan tekanan dari aksi jual asing. Pergerakan ini menunjukkan polarisasi dalam preferensi investor, dengan fokus terhadap emiten energi dan pertambangan tertentu, sementara saham-saham kapital besar justru mengalami aksi profit taking.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya