Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Batuk Saat Kabut Asap, Waspadai Tanda Pneumonia

Peningkatan kasus pneumonia terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat karhutla, namun tidak semua batuk saat asap berarti infeksi paru.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 13.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Batuk Saat Kabut Asap, Waspadai Tanda Pneumonia
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi udara yang tercemar asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan memicu berbagai gangguan pernapasan, termasuk batuk, tenggorokan gatal, dan sesak napas. Meski gejala-gejala ini sering muncul akibat paparan asap langsung, mereka juga kerap menjadi tanda awal pneumonia, terutama jika disertai demam tinggi, kelelahan ekstrem, mual, atau muntah. Kementerian Kesehatan mencatat infeksi bakteri sebagai penyebab utama pneumonia, yang bisa berkembang lebih cepat saat kualitas udara menurun drastis.

RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak melaporkan kenaikan 20 persen kasus pneumonia sejak awal Agustus 2026, sejalan dengan intensitas kebakaran yang meningkat. Asap dari karhutla mengandung partikel halus dan gas berbahaya yang dapat menyebabkan iritasi saluran napas, mirip dengan gejala pneumonia. Namun, perbedaan mendasar terletak pada adanya infeksi aktif pada paru-paru, yang menimbulkan gejala lebih berat dan persisten.

Gejala seperti nyeri dada saat menarik napas, batuk produktif dengan lendir tebal, demam di atas 39 derajat Celcius, hingga kebingungan, menjadi indikator penting bahwa kondisi bukan hanya reaksi terhadap polusi, tetapi infeksi yang membutuhkan penanganan medis. Meski asap bisa memicu gejala serupa, tidak semua kasus batuk akibat asap berakhir sebagai pneumonia. Faktor risiko seperti usia lanjut, anak di bawah lima tahun, dan penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan jantung meningkatkan kemungkinan komplikasi.

Pemeriksaan medis dianjurkan jika gejala berlangsung lebih dari tiga hari, terutama jika disertai demam tinggi, sesak napas parah, atau batuk yang menghasilkan lendir berwarna kuning atau hijau. Menurut panduan dari Mayo Clinic, konsultasi dengan tenaga kesehatan segera sangat penting untuk mencegah komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya