BI Tingkatkan Insentif Likuiditas untuk Dorong Kredit ke UMKM
Bank Indonesia naikkan insentif likuiditas ke 6% mulai September 2026, dengan total insentif mencapai Rp446,5 triliun hingga awal Agustus, demi memperkuat aliran kredit ke UMKM dan sektor prioritas.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 18.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bank Indonesia memperkuat transmisi likuiditas perbankan melalui peningkatan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari 5,5% menjadi 6%, efektif mulai bulan September 2026. Langkah ini bertujuan agar dana yang tersedia di sistem keuangan tidak hanya mengendap, tetapi benar-benar menjangkau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor ekonomi produktif lainnya. Gubernur BI, Destry Damayanti, menekankan bahwa keberhasilan kebijakan bergantung pada sinergi antarlembaga pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan untuk memastikan likuiditas menghasilkan ekspansi usaha dan penciptaan lapangan kerja.
Hingga awal Agustus 2026, total insentif yang telah diberikan kepada perbankan mencapai Rp446,5 triliun, setara 5,02% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Angka ini menunjukkan dampak signifikan dari kebijakan insentif, namun masih terdapat ruang besar untuk peningkatan penyaluran kredit. Destry menyebut bahwa banyak kredit yang telah disetujui tetapi belum dicairkan, menunjukkan adanya ketimpangan antara pasokan likuiditas dan permintaan pembiayaan dari sektor riil. Oleh karena itu, tantangan utama bukan hanya pada peningkatan likuiditas, tetapi juga pada penguatan permintaan kredit dari pelaku usaha.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menyoroti pentingnya transmisi likuiditas yang efektif ke sektor riil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia mencatat pertumbuhan kredit yang positif terjadi baik pada bank milik negara (Himbara) maupun bank swasta. Namun, menurutnya, fokus ke depan bukan hanya pada volume kredit, melainkan pada kualitas dan distribusinya—agar lebih inklusif dan memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi ekonomi nasional, terutama di sektor UMKM.
Di sisi lain, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyatakan kondisi perbankan nasional tetap sehat, ditandai oleh modal yang kuat, risiko kredit rendah, serta pertumbuhan DPK yang stabil. Ia menekankan pentingnya menjaga disiplin pasar dalam penghimpunan dana agar persaingan tidak mendorong kenaikan biaya dana. Untuk itu, LPS memanfaatkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) sebagai alat pengendali, yang bergerak sesuai dinamika pasar, sehingga biaya dana tetap terkendali dan memungkinkan perbankan menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif.
Destry menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga—yang ia sebut sebagai Sinergi Merah Putih—merupakan kunci keberhasilan. Bukan sekadar kerja sama formal, tetapi penyelarasan strategi dan aksi nyata antarlembaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. BI akan terus menjaga kecukupan likuiditas, memperkuat transmisi suku bunga kebijakan, dan memastikan penyaluran kredit lebih efisien, khususnya ke sektor produktif dan UMKM, sebagai bagian dari upaya mendukung stabilitas sistem keuangan sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Bantuan Beras Tak Boleh Dipotong, Warga Diminta Laporkan Pelanggaran
Badan Pangan Nasional tegaskan bantuan pangan beras 2026 harus diterima utuh tanpa potongan, sekaligus buka saluran pengaduan untuk laporan penyimpangan.
14 September 2026

Asing Borong Saham Ini Meski IHSG Melemah
Investor asing melakukan aksi beli bersih pada 10 saham unggulan meski terjadi penurunan IHSG sebesar 1,66% dan catatkan net sell Rp3,36 triliun selama pekan 7–11 September 2026.
14 September 2026

Purbaya Dorong LPEI Dorong Kredit Murah untuk Industri Ekspor Tertekan
Menteri Keuangan meminta LPEI memperluas akses pembiayaan murah bagi sektor tekstil, alas kaki, furnitur, dan baja yang terdampak persaingan global.
14 September 2026

David Fernando Audy Kini Pimpin Komisaris DSSA
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk resmi menunjuk David Fernando Audy sebagai Presiden Komisaris, menggantikan Franky Oesman Widjaja, setelah disetujui oleh pemegang saham dalam RUPSLB.
14 September 2026
Berita Lainnya

Waspada Modus Penipuan Liburan Berbasis AI
Senin, 14 September 2026, 11.48 WITA

Batas Aman Konsumsi Gula Harian Sesuai Aturan Kemenkes
Senin, 14 September 2026, 11.48 WITA

31 Produk Herbal dan Suplemen Ilegal Berbahaya Ditemukan BPOM
Senin, 14 September 2026, 11.47 WITA

iPhone 18 Pro Resmi Meluncur, Ketersediaan di Indonesia Belum Dipastikan
Senin, 14 September 2026, 11.44 WITA

Malware Asal Indonesia Ancam Privasi Pengguna Android
Senin, 14 September 2026, 11.38 WITA

Dirut Konsultan Tambang Diserahkan ke Kejaksaan atas Dugaan Penggelapan Pajak Rp3,3 Miliar
Senin, 14 September 2026, 11.37 WITA

Penembakan Jelang Pemilu Bangsamoro Tewaskan Tiga Orang
Senin, 14 September 2026, 11.37 WITA

Revisi UU HKPD Jadi Prioritas, DPR Evaluasi Batasan Belanja Pegawai
Senin, 14 September 2026, 11.37 WITA


