Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Biaya Produksi Beras Indonesia Masih Lebih Tinggi

Menteri Pertanian mengungkapkan biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp12 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding Vietnam dan Thailand yang hanya Rp3,8 ribu, didorong oleh subsidi yang relatif kecil dan ketergantungan pada bibit impor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Biaya Produksi Beras Indonesia Masih Lebih Tinggi
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa biaya produksi beras di Indonesia mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram, jauh melampaui angka Rp3.800 per kilogram di Thailand dan Vietnam. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa selisih besar ini disebabkan oleh tingkat subsidi pemerintah yang masih terbatas dibandingkan negara-negara produsen beras utama lainnya, seperti Vietnam, China, hingga Arkansas, Amerika Serikat, yang menerapkan subsidi hingga 70–80 persen.

Amran menegaskan bahwa meskipun peningkatan subsidi menjadi opsi, kemampuan anggaran negara (APBN) menjadi batasan utama. Ia menilai bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk mendukung sektor pertanian melalui mekanisme lain, seperti penambahan pasokan pakan ternak berupa SPHP jagung sebanyak 150 ribu ton, sebagai upaya meringankan beban peternak tanpa menambah beban anggaran subsidi langsung.

Perbandingan ini muncul sebagai respons atas pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang menyoroti ketimpangan produktivitas dan efisiensi produksi pangan di tingkat regional. Ia menekankan bahwa faktor-faktor seperti teknologi pertanian, penggunaan varietas unggul, serta manajemen pengolahan lahan menjadi kunci keunggulan negara tetangga. Kesenjangan ini juga terlihat pada komoditas lain, seperti tebu yang biayanya di Lumajang mencapai Rp14 ribu per kilogram, sementara di India dan Brasil hanya di bawah Rp4 ribu.

Ketimpangan juga terjadi pada kedelai, di mana produktivitas Indonesia rata-rata hanya 1 ton per hektare dengan bibit lokal, berbeda jauh dengan negara yang menerapkan rekayasa genetik yang mampu mencapai hingga 10 ton per hektare. Akibatnya, harga kedelai dalam negeri bisa tiga hingga empat kali lebih mahal. Ketergantungan terhadap bibit impor, menurut Zulhas, menjadi bagian dari rantai masalah yang belum teratasi secara menyeluruh.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I mencapai 5,45 persen, meski masih kalah dari Vietnam. Ia menekankan bahwa kompleksitas ekonomi Indonesia berbeda dari Vietnam, termasuk dalam pengendalian inflasi yang lebih terkendali, meskipun pertumbuhan ekonomi negara tetangga lebih tinggi, dengan inflasi mencapai 4,5–5 persen.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya