Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Bocah SMP Temukan Harta Karun Emas Saat Kerja Paruh Waktu

Seorang pelajar SMP dari Jawa Timur menemukan benda berharga emas murni berlapis permata dan berlian saat bekerja mencangkul sawah selama libur sekolah, bernilai Rp3,1 miliar, yang kemudian diserahkan ke negara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 22.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Bocah SMP Temukan Harta Karun Emas Saat Kerja Paruh Waktu
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada tahun 1989, seorang remaja berusia 15 tahun asal Kediri, Jawa Timur, mengalami perubahan hidup tak terduga saat menemukan benda berharga saat bekerja paruh waktu. Ia menjalani masa libur sekolah dengan mencangkul sawah milik warga sekitar demi menutupi tunggakan biaya sekolah yang telah berlangsung dua bulan. Kondisi keuangan keluarganya memaksa ia mencari penghasilan tambahan, meski harus bekerja keras di bawah terik matahari dari pagi hingga sore.

Pada 21 Juni 1989, saat sedang menggali tanah sekitar setengah meter, cangkulnya mengenai sesuatu yang keras. Setelah digali lebih dalam, ia menemukan benda pipih berlapis emas murni yang dihiasi berlian dan permata. Terkejut, ia langsung memanggil dua temannya dan bersama-sama membawa temuan itu ke kantor polisi untuk dilaporkan. Kejadian ini seketika menjadi perbincangan publik, menarik perhatian media nasional.

Hasil pemeriksaan oleh ahli menunjukkan benda tersebut berukuran 25x35 cm, berat 1,2 kilogram, dan dihiasi 48 butir permata serta berlian. Relief yang terukir pada permukaannya berupa gambar matahari dan burung garuda—simbol khas era akhir Kerajaan Majapahit. Berdasarkan ciri khas arkeologis, dugaan kuat menyatakan temuan itu berasal dari abad ke-15, menambah nilai sejarah dan keunikan benda tersebut.

Dengan harga emas murni saat ini, nilai temuan itu diperkirakan mencapai Rp3,1 miliar. Meski demikian, sesuai peraturan negara, benda bersejarah tersebut diserahkan kepada pemerintah dan kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sebagai bentuk penghargaan, Presiden Soeharto menyetujui kompensasi sebesar Rp19,4 juta dan menjamin pendidikan Seger hingga perguruan tinggi.

Bagi Seger, penemuan itu bukan hanya soal kekayaan materi, tetapi juga kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tanpa beban finansial. Ia menyebut pengalaman itu sebagai momen paling tak terlupakan dalam hidupnya, yang memperlihatkan bahwa keberuntungan bisa datang dari usaha dan ketekunan, bahkan saat sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya