Bos KETR Beli Saham Massal di Bawah Harga Pasar
Direktur KETR, Vidcy Octory, melakukan pembelian 48 juta saham dengan harga Rp200 per saham, jauh di bawah nilai pasar, setelah BEI memantau aktivitas pasar tidak biasa.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada 14 September 2026, Vidcy Octory, selaku direktur PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), melakukan transaksi pembelian saham senilai Rp9,7 miliar melalui perantara Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara. Transaksi ini melibatkan 48 juta saham dengan harga Rp200 per saham, yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan harga pasar pada hari yang sama. Setelah transaksi, kepemilikan Vidcy Octory di emiten tersebut naik menjadi 1,70%, sementara Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 54,83%.
Pada hari transaksi berlangsung, saham KETR dibuka di level Rp955 dan berakhir di Rp905 per saham, menunjukkan pergerakan turun sebesar 5,76% pada sesi perdagangan. Meski demikian, dalam periode satu bulan terakhir, saham emiten kontraktor ini mengalami kenaikan 57,89%, meskipun secara tahunan (year to date) masih mengalami penurunan sebesar 17,43%. Kenaikan harga yang tajam dalam rentang waktu singkat menjadi alasan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau aktivitas pasar secara khusus.
BEI secara resmi mengumumkan adanya Unusual Market Activity (UMA) terhadap saham KETR sejak 11 September 2026. Pengumuman tersebut dikeluarkan untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi kepentingan investor, terutama pemegang saham minoritas. BEI menegaskan bahwa pengumuman UMA bukan indikasi pelanggaran hukum, melainkan langkah preventif untuk memantau pola transaksi yang tidak lazim dan berpotensi mengganggu keteraturan pasar.
Dalam rilis resminya, BEI menyatakan bahwa pihaknya sedang mencermati perkembangan transaksi saham KETR secara intensif. Investor diminta untuk tetap waspada, mengecek jawaban resmi dari emiten terhadap permintaan konfirmasi dari bursa, menelaah kinerja perusahaan serta transparansi informasi yang disampaikan. Selain itu, investor juga perlu meninjau kembali rencana tindakan korporasi yang belum disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul sebelum mengambil keputusan investasi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Defisit APBN Agustus 2026 Tetap Terkendali di 0,9% PDB
Defisit anggaran hingga Agustus 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9% dari PDB, tetap dalam batas aman meski pendapatan di bawah target.
18 September 2026

MUI Dorong Reformasi Penerimaan Negara Berbasis SDA dan SDM
MUI meminta Menteri Keuangan baru memperluas sumber penerimaan negara dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam dan manusia, sekaligus mendorong integrasi zakat sebagai insentif fiskal.
18 September 2026

Aliran Modal Asing ke RI Tembus Rp141,6 Triliun di Tiga Kuartal Pertama 2026
Aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp141,6 triliun hingga kuartal III 2026, dominan melalui Surat Berharga Negara dan instrumen SRBI, meski pasar saham masih catat outflow.
18 September 2026

Pajak Nasional Tembus Rp1,41 Triliun, Capai 59,8% dari Target Tahunan
Penerimaan pajak hingga Agustus 2026 mencapai Rp1,41 triliun, tumbuh 24,1% dibanding tahun lalu, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan efektivitas reformasi perpajakan.
18 September 2026
Berita Lainnya

All New Pajero Hadirkan Legasi Baru dengan Teknologi Terkini
Jumat, 18 September 2026, 11.44 WITA

Xiaomi Pastikan Mobil Listrik Hadir di Indonesia
Jumat, 18 September 2026, 11.43 WITA

Robot Humanoid dan Anjing Digital Resmi Hadir di Indonesia
Jumat, 18 September 2026, 11.42 WITA

HP Meledak di Tas Penumpang KRL, Polisi Ungkap Penyebab Asap
Jumat, 18 September 2026, 11.35 WITA

Bahlil Siapkan Badan Usaha Khusus Migas Langsung di Bawah Presiden
Jumat, 18 September 2026, 11.35 WITA

Prabowo Tegaskan Tak Ada Birokrat yang Tak Bisa Disentuh
Jumat, 18 September 2026, 11.35 WITA

Prabowo Perintahkan Siapkan E50 Usai Sukses B50
Jumat, 18 September 2026, 11.34 WITA

Pendapatan Negara Tembus Rp2,055 Triliun dalam Delapan Bulan
Jumat, 18 September 2026, 11.33 WITA


