Bursa Mineral 2027 Dorong Indonesia Jadi Penentu Harga Global
Indonesia siap membangun bursa komoditas strategis mulai 1 Januari 2027 untuk meningkatkan posisi sebagai penentu harga global, bukan hanya eksportir harga rendah.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia menargetkan operasionalisasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis pada 1 Januari 2027, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengubah posisi ekonomi nasional di pasar global. Langkah ini diharapkan mampu mengubah Indonesia dari negara yang hanya menerima harga ekspor—disebut price taker—menjadi pemain utama yang ikut menentukan harga komoditas dunia, atau price setter. Keberadaan bursa ini menjadi fondasi utama bagi terbentuknya Indonesia Reference Price, acuan harga yang berasal dari dalam negeri dan mencerminkan realitas pasar domestik.
Peran penting Bursa Mineral ditegaskan melalui dukungan dari sejumlah pelaku industri, termasuk Forum Industri Nikel Indonesia (FINI). Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusumah, menegaskan bahwa industri mendukung penuh pembentukan platform perdagangan yang transparan dan akuntabel. Menurutnya, keberadaan bursa akan mencegah praktik manipulasi harga seperti under-invoicing dan transfer pricing yang selama ini merugikan kepentingan nasional. Ia menekankan bahwa keberadaan bursa bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga bagian dari upaya membangun kepercayaan pasar internasional terhadap komoditas Indonesia.
Dalam proses penyusunan platform, FINI bersama asosiasi lain telah membentuk task force untuk memberikan masukan teknis kepada Badan Pengelola Investasi Danantara (DSI), lembaga yang mengelola pengembangan bursa. Arif menegaskan bahwa kehadiran bursa bertujuan untuk menjamin bahwa sumber daya alam Indonesia diperdagangkan secara sehat, dengan harga yang tercermin dari proses pasar yang terbuka. Ia menilai bahwa tujuan utama bursa sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang ingin Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pusat perdagangan komoditas strategis.
CEO Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa bursa mineral akan beroperasi sebagai pasar spot, memfasilitasi transaksi langsung antara penjual dan pembeli. Dengan fitur-fitur yang disesuaikan dengan karakteristik perdagangan mineral, bursa diharapkan mampu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola transaksi. Keberadaan bursa juga akan melengkapi ekosistem industri mineral yang sedang diperkuat melalui peran PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID sebagai holding BUMN pertambangan strategis.
Dengan demikian, pembentukan bursa bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan langkah sistemik untuk memperkuat daya tawar Indonesia dalam rantai pasok global. Di tengah dominasi komoditas seperti nikel, timah, batu bara, dan emas, Indonesia kini bergerak menuju posisi lebih strategis—dari produsen menjadi pelaku pasar yang memiliki pengaruh dalam penetapan harga. Ini merupakan transformasi fundamental yang diharapkan mampu membawa nilai tambah lebih besar bagi negara dan industri domestik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


