Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China dan Filipina di Ambang Krisis di Laut China Selatan

Bentrokan fisik antara kapal penjaga pantai China dan Filipina di Second Thomas Shoal memicu ketegangan diplomatik, menandai krisis baru dalam perselisihan maritim yang telah berlangsung selama dekade.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 08.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
China dan Filipina di Ambang Krisis di Laut China Selatan
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Insiden kekerasan antara pasukan penjaga pantai China dan Filipina di sekitar Second Thomas Shoal menjadi puncak dari ketegangan yang telah memburuk selama bertahun-tahun. Peristiwa pada 20 Juli menunjukkan eskalasi fisik, di mana petugas Filipina dilaporkan mengalami benturan dengan alat tajam dari pihak China, menimbulkan kekhawatiran global terhadap stabilitas regional. Kementerian Luar Negeri Filipina menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk agresi terhadap kedaulatan maritim, sementara Beijing menyalahkan Manila atas provokasi yang dilakukan sebelumnya.

Ketegangan ini muncul menjelang pertemuan menteri luar negeri ASEAN, yang menyoroti betapa rentannya kerja sama regional terhadap intervensi unilateral. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. segera mengekspresikan ketidakpuasan dengan memanggil duta besar China untuk menyampaikan teguran tegas, menunjukkan sikap tegas dalam menangani ancaman terhadap wilayahnya. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengakui bahwa hubungan kedua negara telah memasuki masa kritis, yang menandai pengakuan atas kegagalan diplomasi dalam mengendalikan eskalasi.

Pola ini bukan kali pertama terjadi. Sejak awal 2010-an, China telah mengadopsi pendekatan koersif dalam menangani klaim maritim, termasuk menabrak kapal bantuan Filipina, menggunakan air meriam untuk mengusir kapal nelayan, dan bahkan melaporkan penggunaan perangkat laser terhadap nelayan Vietnam. Pendekatan ini, yang didukung oleh keberadaan struktur buatan di wilayah tersebut, telah menimbulkan kritik internasional terhadap keberlanjutan dan keterbukaan dari kebijakan maritim Beijing.

Dengan krisis yang kembali muncul, dunia menyadari bahwa bentrokan kecil di Laut China Selatan mampu mengguncang aliansi strategis, memicu respons militer, dan menantang komitmen terhadap hukum laut internasional. Kekhawatiran utama kini bukan hanya pada wilayah tertentu, melainkan pada stabilitas sistem multilateral yang telah menjadi fondasi keamanan global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya