China dan Filipina di Ambang Krisis di Laut China Selatan
Bentrokan fisik antara kapal penjaga pantai China dan Filipina di Second Thomas Shoal memicu ketegangan diplomatik, menandai krisis baru dalam perselisihan maritim yang telah berlangsung selama dekade.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 08.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Insiden kekerasan antara pasukan penjaga pantai China dan Filipina di sekitar Second Thomas Shoal menjadi puncak dari ketegangan yang telah memburuk selama bertahun-tahun. Peristiwa pada 20 Juli menunjukkan eskalasi fisik, di mana petugas Filipina dilaporkan mengalami benturan dengan alat tajam dari pihak China, menimbulkan kekhawatiran global terhadap stabilitas regional. Kementerian Luar Negeri Filipina menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk agresi terhadap kedaulatan maritim, sementara Beijing menyalahkan Manila atas provokasi yang dilakukan sebelumnya.
Ketegangan ini muncul menjelang pertemuan menteri luar negeri ASEAN, yang menyoroti betapa rentannya kerja sama regional terhadap intervensi unilateral. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. segera mengekspresikan ketidakpuasan dengan memanggil duta besar China untuk menyampaikan teguran tegas, menunjukkan sikap tegas dalam menangani ancaman terhadap wilayahnya. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengakui bahwa hubungan kedua negara telah memasuki masa kritis, yang menandai pengakuan atas kegagalan diplomasi dalam mengendalikan eskalasi.
Pola ini bukan kali pertama terjadi. Sejak awal 2010-an, China telah mengadopsi pendekatan koersif dalam menangani klaim maritim, termasuk menabrak kapal bantuan Filipina, menggunakan air meriam untuk mengusir kapal nelayan, dan bahkan melaporkan penggunaan perangkat laser terhadap nelayan Vietnam. Pendekatan ini, yang didukung oleh keberadaan struktur buatan di wilayah tersebut, telah menimbulkan kritik internasional terhadap keberlanjutan dan keterbukaan dari kebijakan maritim Beijing.
Dengan krisis yang kembali muncul, dunia menyadari bahwa bentrokan kecil di Laut China Selatan mampu mengguncang aliansi strategis, memicu respons militer, dan menantang komitmen terhadap hukum laut internasional. Kekhawatiran utama kini bukan hanya pada wilayah tertentu, melainkan pada stabilitas sistem multilateral yang telah menjadi fondasi keamanan global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

