Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China Jaga Kepentingan Global, Tidak Dorong Konflik AS-Iran

China mendukung Iran secara terbatas, namun tetap menjaga hubungan dengan AS dan negara Teluk dengan membatasi keterlibatan ekonomi dan politik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 14.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
China Jaga Kepentingan Global, Tidak Dorong Konflik AS-Iran
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - China tetap menjadi mitra utama Iran dalam konteks ekonomi dan energi, terutama melalui perdagangan minyak yang menjadi tulang punggung perekonomian Teheran. Namun, dukungan tersebut tidak disertai komitmen tanpa batas, mengingat kepentingan strategis Beijing yang lebih luas, termasuk menjaga stabilitas hubungan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Teluk. Dalam praktiknya, Beijing memilih pendekatan yang seimbang, menolak sanksi sekunder AS terhadap Iran, tetapi tanpa mengambil langkah yang berisiko memicu konflik dengan Washington.

Perdagangan minyak Iran ke China mengalami penurunan signifikan, turun dari 1,85 juta barel per hari pada Maret-April menjadi sekitar 240.000 barel per hari pada Agustus, menurut data Kpler. Hal ini mencerminkan kehati-hatian Beijing dalam mengelola risiko sanksi AS, yang masih mengancam perusahaan besar dan bank milik negara. Sejumlah perusahaan China seperti Sinopec dan PetroChina telah menjauh dari minyak Iran, sementara transaksi lebih banyak dilakukan oleh kilang kecil yang tidak terlalu terhubung dengan sistem keuangan global berbasis dolar.

Kesepakatan strategis 2021 yang menjanjikan investasi hingga US$400 miliar ke Iran belum banyak terealisasi. Menurut analis, alasan utamanya adalah ketidakmauan perusahaan China mempertaruhkan akses ke pasar internasional demi proyek yang berisiko tinggi. China memiliki banyak alternatif pasokan energi dari Arab Saudi, Rusia, Irak, dan UEA, sehingga ketergantungan terhadap minyak Iran tidak mutlak. Karena itu, Beijing lebih memilih menjaga Iran tetap stabil dan terhubung secara ekonomi, bukan memilih pihak dalam konflik dengan AS atau negara Teluk.

Dalam pernyataan terkini, pakar kebijakan Timur Tengah menekankan bahwa hubungan China-Iran lebih bersifat pragmatis daripada aliansi strategis. China tidak ingin dukungannya terhadap Iran mengorbankan kemitraan penting dengan negara-negara Teluk, yang merupakan mitra utama dalam sektor energi dan perdagangan. Di sisi lain, pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Mei 2026 serta rencana pertemuan lanjutan pada September 2026 menunjukkan prioritas Beijing untuk menjaga harmoni bilateral dengan Washington.

Dengan demikian, kebijakan China terhadap Iran bersifat konsisten: menolak eskalasi konflik dan menekankan de-eskalasi, namun tanpa mengambil langkah yang bisa mengancam stabilitas hubungan dengan AS. Dukungan yang diberikan bersifat terbatas dan terukur, bertujuan untuk memastikan Iran tetap stabil dan terbuka bagi kerja sama ekonomi, bukan sebagai alat politik dalam persaingan global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya