Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Data Center AI dan Tekanan Air: Tantangan Infrastruktur di Tengah Ekspansi Digital

Proyek data center berbasis AI senilai Rp3,5 triliun di Purwakarta dihentikan sementara karena persoalan perizinan dan dampak lingkungan, terutama terkait konsumsi air yang tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 12.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Data Center AI dan Tekanan Air: Tantangan Infrastruktur di Tengah Ekspansi Digital📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pembangunan fasilitas data center berbasis kecerdasan buatan di kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, terpaksa ditunda akibat sejumlah kendala perizinan dan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan. Proyek senilai Rp3,5 triliun ini menjadi sorotan karena operasionalnya membutuhkan air dalam jumlah besar, khususnya untuk sistem pendinginan berbasis penguapan. Kehadiran fasilitas semacam ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur sumber daya air di wilayah yang sudah memiliki banyak fungsi, seperti penyediaan air baku dan irigasi.

Ahli lingkungan dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Mariana Marselina, menekankan pentingnya kajian menyeluruh sebelum melanjutkan proyek. Ia menyebut berbagai dampak ekologis yang perlu dipertimbangkan, mulai dari penggunaan air, konsumsi energi tinggi, karakteristik limbah cair, perubahan tata guna lahan, hingga dampak panas dan kebisingan. Ia menyoroti khususnya ketergantungan Waduk Jatiluhur terhadap pasokan air untuk kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian, yang perlu diprioritaskan meski musim kemarau tiba.

Studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) tahun 2025 menunjukkan bahwa satu data center bisa mengonsumsi hingga 5 juta galon air per hari—setara dengan kebutuhan sekitar 10 ribu hingga 50 ribu orang. Di Amerika Serikat, data center pada 2021 diketahui menggunakan 449 juta galon air per hari. Namun, konsumsi air tidak seragam; tergantung pada teknologi pendingin, lokasi, iklim, dan kepadatan perangkat. Sebagian besar air yang digunakan dalam sistem evaporatif menguap, sementara sisanya dibuang ke sistem pengolahan limbah.

Perbedaan data dari praktisi industri juga menunjukkan variasi signifikan. CEO Amazon Web Services, Matt Garman, menegaskan bahwa rata-rata data center hanya memakai sekitar 170 ribu galon air per hari, sementara fasilitas Amazon sendiri rata-rata hanya 13 ribu galon per hari. Ia juga menyebut penggunaan air langsung oleh data center hanya 0,5 persen dari total konsumsi air industri di AS. Hal ini menekankan bahwa kekhawatiran terhadap konsumsi air harus dibedakan berdasarkan jenis teknologi dan skala operasional, bukan dianggap seragam.

Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan bahwa rencana pembangunan data center dilakukan dengan pertimbangan lingkungan yang matang. Tanpa kajian mendalam dan transparansi data, kebijakan ekonomi digital berpotensi mengorbankan sumber daya alam vital. Diperlukan pendekatan berbasis bukti dan pemetaan kebutuhan air yang akurat agar pertumbuhan teknologi tidak menimbulkan ketimpangan akses atau krisis sumber air di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya