Defisit Dagang Non-Migas dengan China Mencapai US$17,67 M pada Semester Pertama 2026
Neraca perdagangan non migas Indonesia dengan China mencatat defisit US$17,67 miliar pada Januari–Juli 2026, menjadi yang terbesar dibandingkan mitra dagang lainnya.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 22.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Defisit neraca perdagangan barang non minyak dan gas (migas) Indonesia terhadap China pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai angka US$17,67 miliar, menunjukkan peningkatan dibandingkan defisit periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13,18 miliar. Angka ini mencerminkan ketimpangan perdagangan yang semakin melebar, dengan nilai impor jauh melampaui ekspor dari Indonesia ke negara tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia ke China selama tujuh bulan pertama tahun ini tercatat sebesar US$40,62 miliar, sementara nilai impor dari China mencapai US$58,29 miliar. Kondisi ini menjadikan China sebagai mitra dagang dengan defisit terbesar bagi Indonesia dalam kategori non-migas.
Dua komoditas utama penyumbang defisit adalah mesin dan peralatan mekanik serta bagiannya (HS84) dengan nilai defisit mencapai US$12,45 miliar, disusul oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85) yang menyumbang defisit sebesar US$12,41 miliar. Kedua sektor ini menunjukkan dominasi impor dari China dalam kebutuhan industri dan infrastruktur di Tanah Air.
Selain kedua komoditas tersebut, plastik dan barang dari plastik (HS39) juga turut berkontribusi signifikan terhadap defisit dengan nilai mencapai US$3,35 miliar. Kondisi ini mengindikasikan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan baku dari China, terutama dalam sektor manufaktur dan kemasan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa China tetap menjadi negara penyumbang defisit non-migas terbesar pada periode Januari–Juli 2026. Pernyataan ini menyoroti perlunya kebijakan strategis untuk meningkatkan daya saing ekspor nasional dan diversifikasi pasokan impor guna menyeimbangkan arus perdagangan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Harga Bensin AS Tembus Rp72,7 Juta per Galon Akibat Ketegangan AS-Iran
Lonjakan harga bensin di AS mencapai Rp72,7 juta per galon menjelang Labor Day, dipicu serangan militer terhadap Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
8 September 2026

JLR Siap PHK 4.000 Karyawan Akibat Tekanan Persaingan Global
Jaguar Land Rover mengumumkan pemangkasan 4.000 posisi kerja sebagai respons terhadap tekanan kompetitif dari mobil China dan ketidakpastian pasar global.
8 September 2026

Pesawat Kargo Melampaui Batas Landasan, Tewaskan Lima Orang di Miami
Kecelakaan pesawat kargo Amazon Prime Air 7598 di Bandara Internasional Miami menewaskan lima orang dan melukai lima lainnya, termasuk tiga dalam kondisi kritis, setelah melampaui batas landasan pacu saat mendarat.
7 September 2026

AS Perbarui Imbauan Keamanan untuk Wisatawan ke Brasil
Pemerintah AS memperbarui rekomendasi perjalanan ke Brasil dengan penekanan pada risiko kejahatan berkekerasan dan penculikan kilat di kawasan perkotaan.
7 September 2026
Berita Lainnya

Masker Sekali Pakai Tak Boleh Dicuci, Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 15.47 WITA

Thailand Perpendek Masa Bebas Visa Jadi 30 Hari Mulai 2026
Rabu, 9 September 2026, 15.45 WITA

Larangan Bungkus Makanan Sarapan di Hotel, Ini Alasannya
Rabu, 9 September 2026, 15.44 WITA

Google Maps Bantu Lacak Lokasi Orang Terdekat Secara Real-Time
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Enam Gunung Api Meletus Bersamaan, Pakar Sebut Bukan Tanda Keterkaitan
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Demonstran Serang Anggota Parlemen, Proyek Resor Kushner Jadi Sorotan
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Indonesia Belum Siap Jadi Negara Maju Menurut Analisis Terbaru
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Bank Sentral Global Perkuat Cadangan Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA


