Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Defisit Dagang Non-Migas dengan China Mencapai US$17,67 M pada Semester Pertama 2026

Neraca perdagangan non migas Indonesia dengan China mencatat defisit US$17,67 miliar pada Januari–Juli 2026, menjadi yang terbesar dibandingkan mitra dagang lainnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 22.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Defisit Dagang Non-Migas dengan China Mencapai US$17,67 M pada Semester Pertama 2026
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Defisit neraca perdagangan barang non minyak dan gas (migas) Indonesia terhadap China pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai angka US$17,67 miliar, menunjukkan peningkatan dibandingkan defisit periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13,18 miliar. Angka ini mencerminkan ketimpangan perdagangan yang semakin melebar, dengan nilai impor jauh melampaui ekspor dari Indonesia ke negara tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia ke China selama tujuh bulan pertama tahun ini tercatat sebesar US$40,62 miliar, sementara nilai impor dari China mencapai US$58,29 miliar. Kondisi ini menjadikan China sebagai mitra dagang dengan defisit terbesar bagi Indonesia dalam kategori non-migas.

Dua komoditas utama penyumbang defisit adalah mesin dan peralatan mekanik serta bagiannya (HS84) dengan nilai defisit mencapai US$12,45 miliar, disusul oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85) yang menyumbang defisit sebesar US$12,41 miliar. Kedua sektor ini menunjukkan dominasi impor dari China dalam kebutuhan industri dan infrastruktur di Tanah Air.

Selain kedua komoditas tersebut, plastik dan barang dari plastik (HS39) juga turut berkontribusi signifikan terhadap defisit dengan nilai mencapai US$3,35 miliar. Kondisi ini mengindikasikan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan baku dari China, terutama dalam sektor manufaktur dan kemasan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa China tetap menjadi negara penyumbang defisit non-migas terbesar pada periode Januari–Juli 2026. Pernyataan ini menyoroti perlunya kebijakan strategis untuk meningkatkan daya saing ekspor nasional dan diversifikasi pasokan impor guna menyeimbangkan arus perdagangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya