Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Delapan WNI Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia, Gaji Paling Tinggi Rp40 Juta

Delapan warga negara Indonesia diduga direkrut sebagai tentara bayaran oleh Rusia untuk konflik di Ukraina, dengan iming-iming gaji hingga Rp40 juta per bulan, namun banyak yang justru terjebak utang besar akibat biaya perekrutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 06.52 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Delapan WNI Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia, Gaji Paling Tinggi Rp40 Juta
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) mengungkap adanya delapan warga negara Indonesia yang diketahui telah direkrut menjadi tentara bayaran untuk mendukung operasi militer Rusia di wilayah Ukraina. Temuan ini berdasarkan dokumen komunikasi antara Kementerian Luar Negeri Rusia dan pihak terkait, yang diperoleh setelah pemeriksaan salinan proses pengajuan visa. Nama-nama yang terlibat antara lain Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Syaripudin Muhammad, Maulana M Hadi, Iskandar Wahyu Oktavian, serta Helmi Nugraha Hakim.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, perekrutan dilakukan melalui iming-iming kompensasi finansial tinggi, terutama bagi warga dari negara berpendapatan rendah. Gaji yang ditawarkan diklaim berkisar antara 2.000 hingga 2.500 dolar AS per bulan, setara Rp32 juta hingga Rp40 juta, menurut laporan dari berbagai sumber investigatif. Pengakuan dari mantan anggota militer asing yang berhasil melarikan diri dari medan tempur menyebutkan bahwa sejumlah pria dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menerima janji bayaran awal sebesar 2.000 dolar AS saat pertama kali bergabung.

Namun, realitas yang terjadi jauh dari janji tersebut. Banyak dari mereka tidak menerima gaji penuh, bahkan ada yang sama sekali tidak dibayar. Sebagian besar korban terjebak dalam utang besar karena biaya perekrutan yang mencapai hingga 9.000 dolar AS—setara sekitar Rp145 juta—yang harus dibayar kepada agen perekrut untuk tiket dan visa. Pelatihan militer yang diberikan juga sangat singkat, hanya sekitar dua minggu, dengan bahasa pengantar yang tidak dipahami, yakni bahasa Rusia, sehingga mempersulit integrasi dan komunikasi di medan.

Para tentara asing ini tidak ditempatkan dalam kelompok milisi seperti Wagner, melainkan dimasukkan langsung ke dalam struktur tentara reguler Rusia. Hal ini menunjukkan pendekatan baru dalam perekrutan pasukan, yang menargetkan individu dari negara-negara di Global Selatan yang bersedia berperang demi imbalan finansial tinggi. Menurut analisis dari peneliti senior Mark Hanna, strategi ini bertujuan memperkuat kapasitas militer Rusia dengan memanfaatkan tenaga kerja murah yang bersedia mengorbankan nyawa demi uang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya