Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Denmark Perkuat Militer di Greenland Akibat Tensi Arktik

Denmark mengerahkan personel wajib militer ke Greenland untuk pertama kalinya, sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik dan ancaman eksplorasi wilayah tersebut oleh AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 23.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Denmark Perkuat Militer di Greenland Akibat Tensi Arktik
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Denmark telah meluncurkan operasi militer terbesar dalam sejarah modernnya di Greenland dengan mengerahkan pasukan wajib militer ke wilayah semi-otonom tersebut. Langkah ini menandai pergeseran strategis dalam kebijakan pertahanan negara, menyusul pernyataan berulang oleh mantan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan minat mengakuisisi wilayah Arktik ini. Kehadiran pasukan tersebut bertujuan memperkuat kedaulatan dan keamanan wilayah strategis yang kaya sumber daya alam dan berpotensi menjadi jalur perdagangan internasional baru di masa depan.

Para personel, yang berusia antara 19 hingga 22 tahun, menjalani pelatihan intensif di bawah program Arctic Endurance sebagai bagian dari misi NATO Arctic Sentry. Latihan ini menguji kemampuan bertahan hidup dan operasi militer dalam kondisi ekstrem, termasuk suhu sangat rendah dan medan tanpa vegetasi. Mereka bergerak melintasi daerah gundul dan terbuka, mempersiapkan diri untuk situasi darurat yang mungkin terjadi dalam konteks konflik regional.

Komandan Kompi Kapten Laura Jepsen menegaskan bahwa kehadiran militer bukan untuk provokasi, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang terhadap keamanan wilayah Arktik. "Kami hadir untuk memastikan bahwa semua pihak memahami bahwa Greenland bukan hanya wilayah geografis, tetapi juga bagian dari komunitas internasional yang harus dilindungi," ujarnya. Pemerintah Denmark pun telah menjanjikan investasi miliaran dolar untuk meningkatkan infrastruktur dan kapasitas pertahanan di kawasan tersebut.

Kegiatan militer Denmark di Arktik berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan yang kaya mineral dan sumber daya energi. Moskow, yang memiliki basis militer terbesar di wilayah tersebut, menyebut aksi NATO sebagai ancaman serius terhadap stabilitas regional. Sementara itu, Beijing semakin aktif melalui kemitraan strategis dengan Rusia, memperluas kehadirannya secara diplomatik dan ekonomi. Ketegangan ini menunjukkan bahwa Arktik kini bukan lagi wilayah netral, melainkan medan persaingan kekuatan global yang semakin intens.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya