Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Eks PM Israel Khawatir Citra Negara Terpuruk di AS

Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengungkap kekhawatiran atas penurunan citra negaranya di kalangan generasi muda AS, yang kini mengaitkan Israel dengan istilah genosida.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 08.54 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Eks PM Israel Khawatir Citra Negara Terpuruk di AS
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Naftali Bennett, mantan kepala pemerintahan Israel, menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap pergeseran persepsi publik di Amerika Serikat terhadap negaranya. Ia menegaskan bahwa untuk pertama kalinya sejak berdirinya negara Israel, citra negara itu mulai terganggu secara signifikan di kalangan masyarakat AS, khususnya kalangan muda. Menurutnya, isu genosida kini menjadi asosiasi utama yang muncul ketika seseorang ditanya tentang Israel.

Bennett menekankan bahwa perubahan ini tidak hanya terjadi secara spontan, tetapi dipengaruhi oleh dinamika politik dan kebijakan luar negeri jangka panjang. Ia menyebut bahwa pengaruh Qatar di AS selama dua dekade terakhir turut berkontribusi terhadap pergeseran opini tersebut. Ia menilai bahwa kebijakan yang memungkinkan Qatar membangun pengaruh luas telah membuka ruang bagi narasi yang menyerang citra Israel.

Ia menegaskan bahwa kaitan antara Israel dan genosida merupakan klaim yang tidak akurat dan tidak adil, terlebih ketika dikaitkan dengan tindakan membunuh anak-anak. Ia mencontohkan bagaimana negara lain seperti Italia tetap dikaitkan dengan budaya kuliner seperti pasta, bukan dengan konflik. Menurutnya, citra negara harus didasarkan pada realitas, bukan narasi yang dipolitisasi.

Situasi ini muncul di tengah kontroversi global atas operasi militer Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Meski telah terjadi gencatan senjata, pelanggaran terus terjadi, dengan lebih dari 1.300 warga Palestina tewas sejak kesepakatan berlaku. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 73.000 korban jiwa sejak awal agresi. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menjadi target penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya