Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

El Nino Ancam Produksi Sawit, Stok CPO 2026 Masih Aman

Produksi CPO Indonesia diproyeksikan menurun pada 2027 akibat El Nino, namun stok akhir tahun masih aman di kisaran 2,5–2,9 juta ton.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 11.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
El Nino Ancam Produksi Sawit, Stok CPO 2026 Masih Aman📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dampak El Nino mulai dirasakan pada sektor kelapa sawit nasional, dengan potensi penurunan produksi yang diperkirakan makin tajam pada tahun 2027. Meski demikian, perhitungan terkini dari Ketua Umum Gapki menunjukkan stok crude palm oil (CPO) pada akhir 2026 diperkirakan tetap berada dalam level aman, mencapai rentang 2,5 hingga 2,9 juta ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi stok tahun 2025, menunjukkan bahwa ketersediaan minyak sawit dalam negeri belum mengalami krisis.

Beberapa wilayah sentra produksi seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Kalimantan Utara masih mengalami curah hujan, yang berdampak pada produktivitas tanaman sawit. Dengan kondisi tersebut, Eddy Martono memperkirakan penurunan produksi tahun 2027 mencapai sekitar 3 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penerapan program biodiesel B50 pada tahun 2026 tidak mengalami hambatan, karena produksi CPO saat ini masih mencukupi kebutuhan domestik.

Proyeksi dari PASPI menunjukkan penurunan bertahap produksi CPO nasional, dari 51,6 juta ton di 2025 menjadi 49,2 juta ton di 2026, lalu turun lebih lanjut menjadi 47,6 juta ton pada 2027. Dampak El Nino yang mulai terasa sejak kuartal IV-2026 diperkirakan berlanjut hingga awal 2027. Penurunan produksi juga terjadi di Malaysia, yang diproyeksikan turun dari 20,2 juta ton menjadi 19,5 juta ton. Secara global, produksi CPO diperkirakan menurun dari 85,4 juta ton menjadi 83,6 juta ton pada 2027.

Konsumsi dalam negeri CPO diproyeksikan meningkat pesat, terutama karena penerapan B50. Pada 2026, kebutuhan untuk biodiesel mencapai sekitar 14 juta ton, ditambah 10,2 juta ton untuk pangan dan 2,2 juta ton untuk oleokimia. Total konsumsi domestik diperkirakan mencapai 26–27 juta ton. Jika B50 diterapkan secara penuh pada 2027, kebutuhan biodiesel naik menjadi sekitar 18 juta ton, sehingga ekspor CPO akan terbatas. Hal ini berpotensi menciptakan surplus permintaan global, dengan harga CPO dunia diperkirakan mencapai US$1.650–1.720 per ton.

Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan: di satu sisi, kenaikan harga CPO dunia membuka peluang ekspor dan devisa; di sisi lain, ketersediaan minyak goreng rakyat seperti MinyaKita dan pasokan biodiesel mandatori harus terjamin. Kenaikan harga CPO juga berpotensi memperbesar beban subsidi atau insentif biodiesel, karena harga pembelian biodiesel domestik oleh Pertamina ditentukan berdasarkan harga CPO domestik yang ikut naik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya