Empat Pilar Kunci Wujudkan Kedaulatan AI Nasional
Pemerintah menegaskan empat pilar utama untuk membangun ekosistem kecerdasan artifisial yang mandiri, meliputi talenta, data, komputasi, dan kolaborasi inovasi.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 17.55 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 55x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Pemerintah memandang pembangunan kedaulatan kecerdasan artifisial sebagai fondasi strategis bagi kemajuan digital nasional. Menurut pernyataan pejabat Kementerian Komunikasi dan Digital, membangun ekosistem AI bukan sekadar soal regulasi, melainkan membangun fondasi yang kokoh dari berbagai elemen terintegrasi. Setiap komponen harus saling mendukung agar AI dapat berfungsi secara optimal, aman, dan berkelanjutan di seluruh sektor publik dan swasta.
Kapasitas manusia dan riset menjadi fondasi pertama, mengingat jumlah peneliti dan tenaga ahli di bidang IPTEK masih terbatas. Data BRIN 2024 menunjukkan belanja riset hanya mencapai 0,23 persen dari PDB, dengan jumlah SDM IPTEK sekitar 398.000 orang. Untuk mengisi kesenjangan ini, diperlukan kerja sama strategis dalam bentuk transfer ilmu, pendampingan riset bersama, serta pembinaan talenta lokal agar mampu menguasai teknologi kunci.
Kualitas dan tata kelola data menjadi pilar kedua yang tak kalah penting. AI tidak bisa berjalan efektif tanpa data yang akurat, terstruktur, dan dapat diakses secara aman. Pendekatan baru diperlukan: bukan sekadar mengumpulkan data di satu tempat, melainkan membangun sistem berbagi data antarinstansi melalui interoperabilitas yang terstandar, teraudit, dan terlindungi. Dengan demikian, manfaat data bisa menyebar tanpa harus pindah fisik.
Penguatan infrastruktur komputasi dan pusat data menjadi faktor ketiga, di mana kapasitas saat ini baru mencapai 465–600 megawatt, jauh tertinggal dari negara tetangga. Namun, kedaulatan bukan hanya soal lokasi fisik server, melainkan kendali penuh atas akses, keamanan, dan operasional jangka panjang. Perencanaan infrastruktur juga harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, termasuk efisiensi energi dalam pengoperasian pusat data.
Pilar terakhir adalah pembangunan ekosistem inovasi yang kolaboratif dan terintegrasi. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, industri lokal, dan mitra global harus dijalankan dengan tata kelola yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dan anggaran. Tujuannya adalah menciptakan layanan publik yang lebih efisien, tanpa mengorbankan kendali nasional. Dalam prosesnya, penting menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap kemajuan global dan kekuatan mandiri dalam mengelola teknologi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Pemerintah membangun 66 unit hunian tetap di dua lokasi di Lhokseumawe untuk memulihkan tempat tinggal warga terdampak bencana hidrometeorologi pada November 2025.
24 Oktober 2026

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,8 persen, namun sekitar 11.000 desa dan dusun masih belum terjangkau listrik, dengan target pemerintah menyediakan akses listrik untuk semua hingga 2029.
24 Oktober 2026

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Pemerintah siap menghadapi dampak La Nina melalui kesiapan infrastruktur dan kolaborasi nasional untuk menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan.
24 Oktober 2026

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam meraih penghargaan terbaik dalam kategori Tata Kelola dan Kepatuhan di ajang Penghargaan Energi Subroto 2026.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

