Minggu, 20 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Freeport Siapkan Tambang Kucing Liar dengan Investasi Rp25 Triliun

PT Freeport Indonesia mulai pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar di Grasberg dengan alokasi dana Rp25 triliun, ditargetkan produksi perdana tahun 2029.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 17.50 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Freeport Siapkan Tambang Kucing Liar dengan Investasi Rp25 Triliun📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - PT Freeport Indonesia telah memasuki tahap pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar, lokasinya berada di Distrik Mineral Grasberg, Papua Tengah. Proyek ini menjadi bagian strategis jangka panjang perusahaan, dengan total investasi yang direncanakan mencapai Rp72 triliun hingga tahun 2033, di mana Rp25 triliun telah dikucurkan pada tahap awal. Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, Presiden Direktur Tony Wenas menyatakan bahwa aktivitas pengembangan sudah berjalan dan akan memasuki fase produksi pada 2029.

Pengembangan Kucing Liar dilakukan setelah sebelumnya dilakukan studi kelayakan pada 2023. Pada 2025, perusahaan menyelesaikan evaluasi terhadap potensi perluasan jejak tambang, dengan desain kapasitas produksi mencapai 90 ribu metrik ton bijih per hari. Hasil studi menunjukkan adanya peluang ekspansi dengan biaya rendah, mampu menaikkan kapasitas hingga 130 ribu metrik ton per hari dan meningkatkan cadangan sekitar 20%.

Berdasarkan proyeksi manajemen hingga akhir Desember 2025, cadangan tembaga di Kucing Liar diperkirakan mencapai 8 miliar pon, sedangkan emas yang dapat dipulihkan mencapai 8 juta ons, dengan masa eksploitasi hingga 2041. Angka ini melampaui proyeksi sebelumnya yang hanya 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas. Produksi rata-rata dalam masa penuh diperkirakan mencapai 750 juta pon tembaga dan 735 ribu ons emas—kenaikan lebih dari 35% dibandingkan perkiraan awal.

Peningkatan kapasitas dan cadangan ini juga memerlukan penyesuaian terhadap operasional Grasberg Block Cave serta penyesuaian fasilitas pengolahan. Diperlukan tambahan investasi modal sekitar 10%, setara dengan US$500 juta, untuk mendukung kelancaran pengembangan. Seluruh perencanaan ini menjadi fondasi bagi keberlanjutan produksi dan kontribusi ekonomi jangka panjang perusahaan di wilayah Papua.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya