Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gangguan Bandara Soetta Sebabkan Tunda Perdagangan Rp 2,9 Triliun

Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan penundaan perdagangan internasional senilai Rp 2,9 triliun dalam 48 jam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 22.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Gangguan Bandara Soetta Sebabkan Tunda Perdagangan Rp 2,9 Triliun
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penutupan operasional Bandara Soekarno-Hatta akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak signifikan terhadap arus perdagangan nasional, khususnya komoditas bernilai tinggi yang membutuhkan waktu pengiriman tepat. Dalam periode delapan jam, nilai barang ekspor dan impor yang tertunda diperkirakan mencapai US$ 28 juta, termasuk sekitar 160 ton kargo impor. Data menunjukkan bahwa pada 2025, volume perdagangan melalui bandara tersebut mencapai US$ 30,67 miliar per tahun, dengan rata-rata transaksi harian mencapai US$ 84,03 juta.

Jika gangguan berlangsung hingga 48 jam, kerugian potensial meningkat drastis menjadi sekitar US$ 168 juta, setara dengan Rp 2,96 triliun (kurs Rp 17.630 per dolar AS). Komponen impor yang terdampak mencapai US$ 113,83 juta, sedangkan ekspor terhambat sebesar US$ 54,23 juta, dengan total kargo yang tertunda mencapai sekitar 960 ton. Perhitungan ini hanya mencakup perdagangan internasional melalui jalur udara di Soetta, belum termasuk distribusi domestik dan kerugian langsung akibat pembatalan penerbangan atau kerusakan barang.

Dalam respons terhadap kejadian tersebut, diperlukan koordinasi cepat antara pengelola bandara, maskapai, agen kargo, Bea dan Cukai, serta instansi terkait. Solusi jangka pendek mencakup pemantauan real-time abu vulkanik, penjadwalan ulang penerbangan, percepatan dokumen, serta pengalihan kargo ke bandara alternatif. Barang yang rentan rusak, farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres harus menjadi prioritas penanganan.

Untuk memitigasi risiko di masa depan, perusahaan perlu menyusun rencana kontinuitas bisnis berdasarkan skenario gangguan berbagai durasi. Ini mencakup penentuan bandara dan moda transportasi alternatif, serta kontrak cadangan dengan penyedia layanan logistik. Importir harus menyesuaikan persediaan bahan baku kritis, sementara eksportir perlu memiliki gudang dan fasilitas pendingin cadangan. Pemerintah diminta menyusun protokol logistik kebencanaan lintas sektor agar dampak dari gangguan penerbangan tidak meluas ke rantai pasok dan produksi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya