Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Generasi Muda dan Kebiasaan Digital yang Membingungkan Generasi Tua

Perbedaan cara hidup dan teknologi menciptakan kesenjangan dalam pemahaman antargenerasi, terutama dalam hal layanan digital, komunikasi, dan konsumsi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 23.12 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Generasi Muda dan Kebiasaan Digital yang Membingungkan Generasi Tua📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perkembangan teknologi digital telah membentuk pola hidup baru yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi muda kini lebih mengutamakan akses daripada kepemilikan, sehingga lebih memilih berlangganan layanan hiburan secara bulanan daripada membeli produk fisik seperti album atau software secara permanen. Kebiasaan ini sering kali membingungkan generasi yang tumbuh dalam era di mana pembelian satu kali berarti pemakaian tak terbatas.

Komunikasi pun mengalami transformasi signifikan. Banyak generasi muda lebih nyaman menggunakan pesan teks atau aplikasi chat dibandingkan menjawab panggilan telepon langsung. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden usia 18–34 tahun menghindari telepon yang datang secara tiba-tiba, karena menganggapnya sebagai tanda buruk. Di sisi lain, generasi lebih tua lebih menghargai interaksi langsung dan sering kali merasa terganggu ketika tidak mendapat respons langsung dari pihak lain.

Sistem layanan pelanggan berbasis chatbot juga menjadi pemicu kebingungan. Meskipun generasi muda terbiasa dengan respon otomatis dan tautan cepat, banyak dari mereka yang lebih tua tetap menginginkan interaksi manusia langsung, terutama saat menghadapi masalah. Data dari survei Gartner menunjukkan bahwa 64 persen pelanggan lebih memilih perusahaan yang tidak mengandalkan kecerdasan buatan dalam layanan pelanggan, menunjukkan ketidaknyamanan terhadap teknologi yang minim empati.

Kebiasaan seperti ghosting—menghilang tanpa kabar—juga menjadi fenomena yang sulit dipahami oleh generasi tua. Menghindari penolakan langsung dianggap sebagai cara untuk menghindari konflik, tetapi justru dianggap tidak sopan dan menimbulkan kebingungan. Di sisi lain, penggunaan kode QR untuk memesan makanan atau membuka menu digital, meski praktis, tetap menimbulkan kesulitan bagi mereka yang lebih nyaman dengan versi cetak, terutama yang memiliki kendala penglihatan.

Pembayaran layanan antar makanan dengan biaya tambahan seperti pengiriman, alat makan, kantong, dan tip juga menjadi poin perdebatan. Generasi muda menganggapnya sebagai investasi waktu dan tenaga, sementara generasi tua cenderung memilih mengambil pesanan sendiri jika jaraknya dekat. Perbedaan ini bukan soal kebenaran, melainkan penilaian berbeda terhadap nilai waktu, kenyamanan, dan biaya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya