Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini

Pemerintah yakin harga beras akan menurun dalam pekan ini berkat intervensi pasar dan pasokan melimpah dari stok strategis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.36 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah optimistis harga beras nasional mulai mengalami penurunan pada minggu ini, seiring diperkuatnya langkah-langkah intervensi pasar. Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa kondisi stok beras saat ini dalam posisi aman, bahkan melampaui kebutuhan harian, sehingga tidak perlu khawatir terhadap kenaikan harga yang berkepanjangan.

Upaya penstabilan harga dilakukan melalui operasi pasar, penyaluran beras dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta peningkatan distribusi ke ritel modern. Perum Bulog telah diminta memperkuat distribusi, dengan sekitar 4,6 juta ton stok beras yang tersedia di gudang pemerintah, ditambah kapasitas penyimpanan tambahan sebesar 2 juta ton. Dalam waktu dekat, pasokan tersebut akan terus didistribusikan secara merata.

Hingga 18 September 2026, total stok CBP mencapai 4,6 juta ton, sebagian besar telah disalurkan melalui program SPHP dan bantuan pangan. Sebanyak 2,3 juta ton telah dikirim sejak awal tahun hingga pertengahan September, sementara 1 juta ton tambahan sedang dalam proses persiapan untuk wilayah yang mengalami tekanan pasokan. Bantuan pangan beras juga disiapkan untuk menjangkau sekitar 33,4 juta penduduk di berbagai daerah.

Data SP2KP menunjukkan harga rata-rata beras medium mencapai Rp14.644 per kg hingga minggu ketiga September, naik dari Rp14.534 pada Agustus. Kenaikan sebesar Rp110 per kg atau 0,76% terjadi secara nasional. Sementara beras premium juga mengalami kenaikan Rp113 per kg, dari Rp16.382 menjadi Rp16.495. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kenaikan harga tidak didukung oleh keterbatasan stok.

Amran menegaskan bahwa alasan kenaikan harga yang sebelumnya sering dikaitkan dengan kelangkaan stok kini tidak relevan. “Dulu kalau stok kurang, harga naik. Sekarang stok melimpah, apa alasan lagi? Tidak ada,” ujarnya. Ia menekankan bahwa intervensi pasar dan pasokan yang stabil menjadi kunci menekan tekanan harga tanpa perlu melakukan impor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya