Minggu, 20 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Minyak Turun Sedikit, Tetap di Atas US$100 per Barel

Harga minyak dunia sedikit melemah pada Jumat, namun tetap berada di atas level US$100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pasokan dari Arab Saudi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 17.46 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Harga Minyak Turun Sedikit, Tetap di Atas US$100 per Barel📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga minyak dunia mengalami penurunan ringan sekitar satu persen pada perdagangan Jumat, menunjukkan sedikit tekanan setelah sempat mencapai puncak empat bulan terakhir. Minyak Brent berakhir di posisi US$103,77 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun ke US$100,88 per barel. Penurunan ini terjadi meskipun pasar masih mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang terus memburuk.

Kekhawatiran muncul setelah Arab Saudi melaporkan adanya gangguan serius pada pipa East-West, jalur vital pengangkut minyak mentah dari wilayah produksi timur ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Kerusakan tersebut disebabkan oleh serangan yang terjadi pekan lalu, yang mengakibatkan tiga stasiun pompa mengalami kerusakan parah. Jumlah ini lebih tinggi dari perkiraan awal, menunjukkan dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Akibat kerusakan pipa, Arab Saudi membatalkan sejumlah pengiriman minyak ke Eropa dan menutup sementara operasional terminal ekspor di Yanbu. Penutupan ini berpotensi mengganggu pasokan global, dengan diperkirakan dampak mencapai sekitar empat persen dari total pasokan minyak dunia jika perbaikan memakan waktu lama. Pasar kini menantikan kejelasan dari otoritas Saudi mengenai estimasi waktu pemulihan infrastruktur kritis tersebut.

Meskipun pasar mulai menilai kemungkinan jalur alternatif untuk menjaga aliran minyak, kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor penentu harga. Serangan lintas perbatasan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali terjadi, memperlebar front konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global. Pelaku pasar kini menilai risiko pasokan sebagai faktor dominan, meski sementara waktu menunjukkan kenaikan harga telah melambat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya