Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hashim Tegaskan Lahan Terdegradasi Tak Akan Dijadikan Sawit untuk Biodiesel

Utusan Khusus Presiden membantah kaitan antara karhutla 2026 dan pengembangan biodiesel B50, menegaskan 12,7 juta hektare lahan terdegradasi bukan lahan karhutla masa depan dan hanya 2 juta hektar yang dipertimbangkan untuk tanaman biofuel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 12.05 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 38x dibuka
Hashim Tegaskan Lahan Terdegradasi Tak Akan Dijadikan Sawit untuk Biodiesel📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, secara tegas membantah adanya hubungan antara kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2026 dengan program pengembangan biodiesel B50 yang sedang digalakkan pemerintah. Ia menegaskan bahwa tidak ada korelasi langsung antara dua isu tersebut, dan pernyataan yang sempat menimbulkan kontroversi di masa lalu tidak mencerminkan kebijakan resmi pemerintah.

Data tentang 12,7 juta hektare lahan terdegradasi yang sempat disebutkan dalam forum internasional pada 2026 sebenarnya telah diperoleh sejak 2024 dari Kementerian Kehutanan. Hashim menjelaskan bahwa angka tersebut merujuk pada area yang sudah rusak akibat kebakaran tahun-tahun sebelumnya, bukan lahan yang terancam terbakar di masa depan. Lahan tersebut kini berupa semak belukar dan tidak lagi memiliki tutupan hutan asli.

Dalam kerangka kebijakan energi nasional, pemerintah mempertimbangkan penggunaan sebagian lahan terdegradasi untuk penanaman tanaman bahan baku biofuel. Namun, tidak semua area akan digunakan untuk tujuan komersial. Hanya sekitar 2 juta hektare dari total 12,7 juta hektare yang diproyeksikan untuk penanaman, termasuk tebu, singkong, dan sawit. Sementara sisanya akan diprioritaskan untuk reboisasi dan pemulihan ekosistem.

Proses pemilihan lokasi penanaman didasarkan pada pemetaan canggih yang melibatkan satelit dan drone, dengan tujuan menentukan area yang paling sesuai secara topografi dan kondisi tanah. Langkah ini bertujuan menghindari dampak lingkungan negatif serta memastikan keberlanjutan program. Hashim juga menegaskan bahwa dirinya tidak lagi terlibat dalam usaha perkebunan sawit sejak 2018, dan menolak tudingan bahwa ia memiliki kepentingan bisnis di sektor tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya