Hujan Abu dari Anak Krakatau Masih Berlanjut, Kapan Berhenti Tak Bisa Diprediksi
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebabkan hujan abu di sejumlah wilayah Lampung, dengan berhentinya letusan bergantung pada penurunan pasokan magma yang tak bisa ditentukan secara pasti.
Redaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melanda berbagai wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu sore, 5 September, dan berlangsung hingga malam hari. Wilayah yang terdampak meliputi Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat. Warga di sejumlah daerah melaporkan gejala iritasi mata, tenggorokan terasa tidak nyaman, dan gangguan pernapasan akibat paparan debu halus.
Menurut pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), aktivitas letusan dan sebaran abu tidak dapat diukur dengan kalender. Keberlangsungan letusan tergantung pada pasokan magma dari dalam bumi. Jika kantong magma tetap menerima aliran magma baru, maka erupsi susulan yang menghasilkan abu akan terus terjadi secara tidak teratur, naik-turun, tanpa pola pasti. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan yang masih tinggi di dalam dapur magmatik.
Ketika pasokan magma berhenti, aktivitas vulkanik akan mereda. Penyebabnya adalah penurunan energi alami dari dalam bumi, sehingga magma dalam saluran gunung mendingin, mengeras, dan tersumbat oleh batuan di sekitarnya. Tanda-tanda keberhentian pasokan magma dapat diamati melalui penurunan aktivitas gempa dalam, berkurangnya emisi gas beracun, serta penurunan volume tubuh gunung yang terdeteksi sebagai deflasi permukaan. Namun, prediksi kapan hal itu terjadi tetap sulit dilakukan.
Tidak ada teknologi saat ini yang mampu mengukur jumlah magma tersisa di dalam bumi secara akurat. Kondisi bawah permukaan yang kompleks dan berada pada kedalaman puluhan kilometer membuat pemantauan hanya bisa dilakukan secara tidak langsung. Para ahli vulkanologi, oleh karena itu, fokus pada pemantauan dinamika aktivitas secara terus-menerus, bukan pada prediksi tanggal pasti. Upaya terus-menerus oleh Badan Geologi dalam memantau perubahan geodinamika menjadi kunci utama dalam menilai perkembangan situasi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


