Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hujan Abu dari Anak Krakatau Masih Berlanjut, Kapan Berhenti Tak Bisa Diprediksi

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebabkan hujan abu di sejumlah wilayah Lampung, dengan berhentinya letusan bergantung pada penurunan pasokan magma yang tak bisa ditentukan secara pasti.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Hujan Abu dari Anak Krakatau Masih Berlanjut, Kapan Berhenti Tak Bisa Diprediksi
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melanda berbagai wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu sore, 5 September, dan berlangsung hingga malam hari. Wilayah yang terdampak meliputi Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat. Warga di sejumlah daerah melaporkan gejala iritasi mata, tenggorokan terasa tidak nyaman, dan gangguan pernapasan akibat paparan debu halus.

Menurut pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), aktivitas letusan dan sebaran abu tidak dapat diukur dengan kalender. Keberlangsungan letusan tergantung pada pasokan magma dari dalam bumi. Jika kantong magma tetap menerima aliran magma baru, maka erupsi susulan yang menghasilkan abu akan terus terjadi secara tidak teratur, naik-turun, tanpa pola pasti. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan yang masih tinggi di dalam dapur magmatik.

Ketika pasokan magma berhenti, aktivitas vulkanik akan mereda. Penyebabnya adalah penurunan energi alami dari dalam bumi, sehingga magma dalam saluran gunung mendingin, mengeras, dan tersumbat oleh batuan di sekitarnya. Tanda-tanda keberhentian pasokan magma dapat diamati melalui penurunan aktivitas gempa dalam, berkurangnya emisi gas beracun, serta penurunan volume tubuh gunung yang terdeteksi sebagai deflasi permukaan. Namun, prediksi kapan hal itu terjadi tetap sulit dilakukan.

Tidak ada teknologi saat ini yang mampu mengukur jumlah magma tersisa di dalam bumi secara akurat. Kondisi bawah permukaan yang kompleks dan berada pada kedalaman puluhan kilometer membuat pemantauan hanya bisa dilakukan secara tidak langsung. Para ahli vulkanologi, oleh karena itu, fokus pada pemantauan dinamika aktivitas secara terus-menerus, bukan pada prediksi tanggal pasti. Upaya terus-menerus oleh Badan Geologi dalam memantau perubahan geodinamika menjadi kunci utama dalam menilai perkembangan situasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya