Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hujan Abu Vulkanik Ancam Kualitas Pakaian, Ini Aturannya

Pakaian yang dijemur saat hujan abu vulkanik perlu dicuci kembali karena partikelnya dapat menempel dan menyebabkan iritasi pada kulit serta saluran pernapasan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Hujan Abu Vulkanik Ancam Kualitas Pakaian, Ini Aturannya
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Lampung, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat. Fenomena ini bukan sekadar kekotoran permukaan, melainkan membawa partikel halus dari erupsi yang dapat menempel pada berbagai benda, termasuk pakaian yang sedang dijemur. Ketika pakaian terpapar abu, partikel tersebut bisa terbawa masuk ke dalam rumah dan menimbulkan risiko kesehatan jika tidak ditangani secara tepat.

Pakar dari Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menekankan pentingnya tetap berada di dalam ruangan saat terjadi hujan abu. Hal ini berlaku juga untuk aktivitas sehari-hari seperti menjemur pakaian. Jika memungkinkan, pakaian sebaiknya dijemur di dalam ruangan atau di area tertutup seperti kanopi untuk menghindari paparan langsung. Penutup atap berfungsi sebagai pelindung utama agar abu tidak langsung menempel pada kain.

Jika hujan abu terjadi secara tiba-tiba saat pakaian sedang dijemur, segera kumpulkan pakaian tersebut dan segera cuci dengan air mengalir. Untuk pakaian yang terkena cukup banyak abu, penggunaan deterjen dalam jumlah lebih besar disarankan. Penting untuk memastikan pakaian benar-benar bersih dari sisa abu sebelum dikeringkan, baik dengan sinar matahari maupun mesin pengering. Abu yang masih menempel dapat merusak mesin pengering karena sifatnya yang kasar dan abrasif.

Dampak kesehatan dari paparan abu vulkanik cukup serius. Profesor Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menjelaskan bahwa partikel abu yang masuk ke saluran napas dapat menyebabkan batuk, iritasi tenggorokan, hingga memicu bronkitis atau memperparah kondisi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Selain pernapasan, abu juga bisa menyebabkan iritasi mata dan kulit, serta berpotensi mencemari sumber air dan makanan jika tidak dikelola dengan baik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya