Hujan Tidak Turun, Abu Vulkanik Tetap Menggantung di Udara Jakarta
Tanpa hujan di puncak kemarau, abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau tetap menggantung di atmosfer Jakarta, berbaur dengan polusi perkotaan dan memicu lonjakan konsentrasi PM2.5.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 15.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kondisi atmosfer di Jakarta dan sekitarnya pada awal September 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dalam konsentrasi partikel halus dan kasar, diduga akibat intrusi debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang belum terbawa turun oleh hujan. Tanpa turunnya hujan pada masa kemarau puncak, partikel berbahaya tersebut bertahan lebih lama di udara, membentuk lapisan kabut yang mengganggu kualitas udara. Data dari analisis kualitas udara mencatat lonjakan konsentrasi PM2.5 terjadi pada 5 September, dengan angka tertinggi tercatat di Pesawaran, Lampung (30,6 µg/m³) dan Kemayoran, Jakarta (25,3 µg/m³).
Peningkatan partikel kasar terdeteksi pada 6 September, khususnya pada rentang diameter 3,86–5,06 mikrometer, yang menunjukkan dominasi material vulkanik dari erupsi. Perubahan ini terlihat dari penurunan nilai Ångström Exponent (AE) di bawah 1,0 pada pagi hari, menandakan keberadaan partikel besar. Pada siang harinya, AE kembali naik seiring pengendapan abu vulkanik dan masuknya emisi halus dari aktivitas perkotaan seperti kendaraan dan industri.
Analisis distribusi ukuran partikel menunjukkan pergeseran pola: sehari sebelumnya, aerosol didominasi partikel halus (0,11–0,25 µm), mengindikasikan akumulasi polusi lokal atau pembentukan aerosol sekunder. Namun pada 6 September, jumlah partikel halus menurun drastis, sementara partikel kasar mencapai puncak mingguan. Pada 7 September, seluruh kategori partikel—baik halus maupun kasar—mengalami penurunan, menandakan proses peluruhan telah dimulai.
BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Meski langit tampak kabut, bukan berarti hanya polusi biasa. Kombinasi debu vulkanik dan polusi perkotaan menciptakan paparan ganda yang berpotensi membahayakan kesehatan pernapasan. Masyarakat dianjurkan tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi diri dari dampak campuran partikel berbahaya yang masih menggantung di udara.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


