Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 0,76% di Sesi I, Tekanan Jual Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan turun 49,77 poin atau 0,76% ke level 6.484,92 pada sesi pertama perdagangan hari ini, didorong tekanan jual dan sentimen global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah 0,76% di Sesi I, Tekanan Jual Menguat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (15/9/2026), dengan pelemahan sebesar 49,77 poin atau 0,76% ke posisi 6.484,92. Pergerakan indeks berada dalam rentang 6.461,01 hingga 6.549,60, menunjukkan fluktuasi signifikan akibat dominasi penjual di pasar saham domestik. Dari total saham yang diperdagangkan, 333 menguat, 317 melemah, dan 313 tidak bergerak, mencerminkan ketegangan antara sentimen optimistis dan kekhawatiran pasar.

Volume transaksi mencapai 167,54 juta lot dengan nilai mencapai Rp7,16 triliun dan frekuensi transaksi mencapai sekitar 1,06 juta kali. Transaksi reguler mendominasi dengan volume 158,62 juta lot dan nilai Rp6,20 triliun, sementara pasar negosiasi mencatat volume 8,93 juta lot dan nilai Rp956,21 miliar. Transaksi tunai tercatat sangat minim, hanya 350 lot dengan nilai Rp9,01 juta dan frekuensi lima kali.

Sektor keuangan menjadi penyumbang utama pelemahan dengan turun 1,49%, diikuti sektor energi (-1,40%) dan utilities (-0,75%). Saham-saham yang memperparah penurunan indeks antara lain CSMI, HADE, BTEK, FORU, dan FOLK. Di sisi lain, saham-saham penopang kenaikan seperti DEFI, CCSI, TRJA, ALKA, dan SEMA menunjukkan kinerja lebih baik dibanding rata-rata pasar.

Dorongan pelemahan berasal dari sejumlah faktor eksternal dan internal. Dari dalam negeri, pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara menciptakan ketidakpastian terhadap arah kebijakan fiskal. Suahasil menegaskan komitmen menjaga kesehatan APBN dengan memastikan defisit tetap di bawah 3% terhadap PDB. Di level global, eskalasi konflik Timur Tengah, khususnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, mengganggu jalur pipa minyak East-West dan memicu kenaikan harga minyak dunia.

Harga minyak WTI dan Brent naik masing-masing 1,24% dan 1,18%, mencapai US$102,65 dan US$106,93 per barel. Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya energi, terutama bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Di sisi lain, prospek kebijakan moneter The Federal Reserve juga menjadi sorotan. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada rapat FOMC 15–16 September, dengan peluang mencapai kisaran 3,75%-4,00% sebesar 92,4%. Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS diperkirakan mendorong aliran modal ke aset negara maju, menekan rupiah dan pasar keuangan domestik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya