IHSG Melemah di Sesi I, Tekanan dari Sektor Perbankan dan Properti
Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,12% menjadi 6.628,19 pada perdagangan sesi I Senin (7/9/2026), dipengaruhi tekanan dari saham perbankan dan properti meski sektor energi dan kesehatan menguat.
Redaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona negatif pada perdagangan sesi pertama, Senin (7/9/2026), melemah sebesar 8,29 poin atau 0,12% ke level 6.628,19. Pembukaan indeks sempat menguat ke 6.652,09, namun kemudian bergerak fluktuatif dengan rentang pergerakan antara 6.620,52 hingga 6.667,75 sebelum tutup sesi. Volume perdagangan mencapai 23,63 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp8,45 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 1,31 juta kali.
Kinerja sektor menjadi pembeda utama dalam pergerakan indeks. Sementara sektor energi dan kesehatan mencatat kenaikan masing-masing 1,45% dan 1,42%, sektor keuangan justru mengalami penurunan 0,86% dan properti turun paling dalam, yakni 1,22%. Tekanan utama berasal dari emiten besar di sektor perbankan, dengan Bank Central Asia (BBCA) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi penurunan 9,39 poin, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 7,76 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) 3,47 poin.
Di sisi lain, sejumlah saham mampu memberikan dukungan terhadap pergerakan indeks. Bumi Resources (BUMI) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi kenaikan 5,47 poin, diikuti Bayan Resources (BYAN) 3,03 poin dan United Tractors (UNTR) 1,81 poin. Dari total 963 saham yang diperdagangkan, 312 menguat, 305 melemah, sementara 346 lainnya bergerak datar.
Pekan ini diprediksi akan menjadi momentum penting bagi pasar modal Indonesia, dengan sejumlah data ekonomi domestik dan global yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar. Fokus terhadap cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen, dan penjualan eceran dalam negeri, serta data inflasi AS, keputusan suku bunga ECB, dan tren ekonomi Tiongkok, diperkirakan akan menjadi pemicu pergerakan nilai tukar rupiah, indeks saham, serta arus modal asing.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


