Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Didukung Kenaikan Cadangan Devisa

Indeks saham naik 0,30% ke level 6.639, didorong kenaikan cadangan devisa menjadi US$146,5 miliar dan sentimen eksternal positif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 11.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Didukung Kenaikan Cadangan Devisa
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari ini dengan penguatan signifikan, menunjukkan kecenderungan optimistis di awal sesi. Pada pembukaan, IHSG mencatat kenaikan 19,84 poin atau 0,30% ke level 6.639,51. Pergerakan ini disertai volatilitas terkendali, dengan rentang fluktuasi berada di antara 6.636,93 hingga 6.650,87 dalam lima menit pertama perdagangan. Sebanyak 276 saham menguat, 63 saham melemah, sementara 303 saham bergerak datar, menunjukkan keseimbangan pasar yang relatif stabil. Nilai transaksi mencapai Rp131,57 miliar dengan volume perdagangan 280,71 juta lembar saham.

Penguatan IHSG didukung oleh data positif dari dalam negeri, khususnya kenaikan cadangan devisa nasional yang mencapai US$146,5 miliar pada bulan Agustus 2026. Angka ini meningkat dari US$145,3 miliar pada Juli, mencatat kenaikan sebesar US$1,2 miliar dan menjadi level tertinggi sejak Maret. Kenaikan tersebut berasal dari peningkatan penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Cadangan devisa yang mencapai 5,4 bulan pembiayaan impor menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, mampu menopang stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Pelaku pasar juga menanggapi positif pembukaan kembali Bandara Soekarno Hatta serta penurunan aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang mengurangi risiko gangguan logistik dan keamanan. Di sisi global, sentimen pasar dibayangi ketegangan geopolitik pasca-serangan silang antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga minyak mentah—Brent naik 1,1% ke US$97,31 per barel dan WTI melonjak 1,3% ke US$92,66 per barel—menjadi perhatian utama, karena berpotensi memicu inflasi global dan memperkuat tekanan imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023, sementara tenor dua tahun mencapai puncak sejak Januari 2025.

Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan bursa beragam, dengan Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,75%, sementara Nikkei 225 Jepang turun 0,95% dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,22%. Pasar global tetap sensitif terhadap perkembangan ekonomi utama seperti pertumbuhan ekonomi Jepang, kinerja perdagangan China, serta data pasar tenaga kerja AS. Pergerakan tersebut berpotensi memengaruhi arah nilai tukar mata uang dan harga komoditas, yang pada gilirannya akan memengaruhi kinerja pasar keuangan Indonesia sepanjang hari.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya