IHSG Sesi I Naik 1,09% ke Level 5.446
Indeks Harga Saham Gabungan menguat 1,09% pada sesi pertama perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, ditutup di 5.446,74, didorong penguatan sejumlah sektor dan sentimen domestik positif.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 12.01 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 9x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, di zona positif dengan penutupan di level 5.446,74, menguat 58,84 poin atau 1,09% dari posisi pembukaan di 5.397,34. Meski sempat melemah hingga menyentuh level terendah harian di 5.366,29 pada awal sesi, indeks berangsur pulih dan mencatatkan puncak harian di 5.452,77 menjelang pukul 10.00 WIB. Penguatan terjadi setelah sejumlah saham mengalami aksi beli signifikan, khususnya di sektor perbankan dan infrastruktur.
Volume perdagangan mencapai 208,68 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp7,29 triliun. Aktivitas pasar terus mendapat perhatian dari pelaku pasar, terutama terkait perkembangan kebijakan pemerintah, kinerja industri perbankan, dan likuiditas ekonomi domestik. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola sumber daya alam serta rencana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di samping itu, pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir menjadi faktor pendorong kepercayaan pasar.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data uang beredar bulan September 2026 oleh Bank Indonesia (BI), setelah dua bulan berturut-turut mengalami perlambatan. Data tersebut dinilai akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi likuiditas dan tekanan inflasi di dalam negeri. Di sisi lain, kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan mengubah metode perhitungan IHSG mulai 2 November 2026 turut menjadi perhatian. Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) akan dikeluarkan dari perhitungan indeks, sebagai upaya memperkuat representasi dinamika pasar.
Sentimen global juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Inflasi tahunan Jepang pada bulan September 2026 naik menjadi 2,1%, melampaui angka sebelumnya 1,9% dan menjadi yang tertinggi sejak Desember 2025. Inflasi inti, yang tidak termasuk pangan segar namun mencakup energi, mencapai 2,1%—meningkat dari 1,7% di Agustus—dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Kenaikan ini menunjukkan tekanan inflasi yang kembali muncul, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter Bank of Japan di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Bursa Efek Indonesia memantau aktivitas pasar tak lazim pada saham PNSE dan DKHH menyusul kenaikan harga yang tidak wajar dalam periode singkat.
24 Oktober 2026

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. membeli 5,5 juta saham BRMS senilai total Rp2,46 miliar dalam dua transaksi terpisah pada 22 Oktober 2026.
24 Oktober 2026

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Inflasi inti Jepang mencapai 2,1% pada September 2026, tertinggi sepanjang tahun, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan di akhir tahun.
24 Oktober 2026

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Investor diminta tidak asal beli saham karena harga turun, melainkan menilai kualitas bisnis dan valuasi secara komprehensif.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Prabowo Siap Salurkan Rp400 T untuk Petani dan Nelayan Tahun Depan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Pemerintah Alihkan Ekspor Gas ke Dalam Negeri untuk Kelistrikan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

