Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk di Tengah Penguatan Bursa Asia

Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,11% ke level 6.313,57, tertekan sektor energi dan pelemahan rupiah, sementara bursa regional justru menguat berkat kenaikan saham teknologi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 15.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Terpuruk di Tengah Penguatan Bursa Asia📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada sesi perdagangan siang hari, Selasa (22/9/2026), merosot 71,16 poin atau 1,11% ke posisi 6.313,57. Pergerakan ini menjadi yang paling menonjol di antara bursa Asia, seiring dengan penguatan NIKKEI sebesar 1,38%, HSI naik 0,13%, serta Shanghai meroket 0,1%. Penurunan IHSG terjadi di tengah tekanan dari sektor energi yang anjlok 3,07%, disusul real estate turun 1,5% dan utilitas melemah 1,2%.

Faktor pendorong utama pelemahan pasar domestik berasal dari sentimen internal dan eksternal yang tidak mendukung. Analis dari DOO Financial Futures menilai, investor masih menahan diri menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, sementara tekanan dari melemahnya nilai tukar Rupiah dan harga minyak yang tetap tinggi memperkuat kecenderungan aksi jual. "IHSG hari ini memang bergerak lebih rendah dibandingkan bursa Asia lainnya," ujar analis tersebut, menekankan kondisi pasar yang belum stabil.

Tekanan juga muncul dari aksi profit taking di saham-saham kapitalis besar, khususnya di sektor energi dan perbankan. Di sisi lain, pasar global menunjukkan sinyal positif setelah kembali tumbuh optimisme terhadap potensi kecerdasan buatan (AI), yang mendorong kenaikan saham teknologi dan semikonduktor di wilayah Asia. Namun, dampak tersebut minim terasa di pasar Indonesia karena eksposur terhadap sektor tersebut masih terbatas.

Di samping itu, pergerakan nilai tukar Rupiah yang terus melemah terhadap Dolar AS, mencapai level Rp 17.897 per USD, turut memperparah kekhawatiran investor. Hal ini diperkuat oleh sikap hawkish The Federal Reserve yang menyebabkan yield obligasi AS 10 tahun tetap berada dekat angka 5%. Menurut analis MNC Sekuritas, tren penurunan IHSG kini diperparah oleh ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina, serta dinamika hubungan AS-Iran yang terus menjadi perhatian pasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya