Pemerintah Raih Rp615,9 Triliun dari Surat Utang Ritel dalam Dekade Terakhir
Pemerintah berhasil menghimpun dana Rp615,9 triliun melalui penerbitan surat utang ritel selama 10 tahun, menarik 1,08 juta investor secara kumulatif hingga Agustus 2026.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 15.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Republik Indonesia telah meraup dana sebesar Rp615,9 triliun dari instrumen Surat Utang Negara (SUN) ritel dalam periode sepuluh tahun terakhir. Penerbitan tersebut dilakukan melalui 55 seri yang terdiri atas Obligasi Negara Ritel (ORI) sebanyak 30 seri dan Savings Bond Ritel (SBR) sebanyak 14 seri, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penetrasi pasar keuangan ritel. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat bahwa jumlah investor yang terlibat secara kumulatif telah mencapai 1,08 juta hingga bulan Agustus 2026.
Seri ORI030 menjadi yang paling dominan dalam volume penerbitan dengan nilai mencapai Rp40 triliun, sekaligus menempatkan dirinya sebagai seri dengan nilai tertinggi dalam kurun waktu tersebut. Jumlah investor terbanyak juga tercatat pada seri ini, mencapai 102.546 orang. Penerbitan pertama SUN ritel, ORI001 pada 2006, menjadi rujukan historis dengan tingkat kupon mencapai 12,05%, tertinggi dalam sejarah, serta nilai penerbitan Rp3,28 triliun dan jumlah investor 16.561.
Transformasi digital dalam penawaran SUN ritel dimulai pada 2018 dengan peluncuran SBR0003 secara daring, yang berhasil menarik 7.642 investor dengan total penerbitan Rp1,93 triliun. Inovasi berikutnya terjadi pada 2023, ketika pemerintah meluncurkan seri SBR012 dengan mekanisme tenor ganda—2 tahun dan 4 tahun—menunjukkan respons positif dari pasar. Pada tahun 2025, realisasi penerbitan mencapai puncaknya dengan total nilai Rp68 triliun, terdiri dari Rp53 triliun dari ORI dan Rp15 triliun dari SBR.
Hingga Agustus 2026, penerbitan SUN ritel telah mencapai Rp54,44 triliun, berasal dari empat seri berbeda: ORI029 tenor 3 tahun, ORI029 tenor 6 tahun, ORI030 tenor 3 tahun, dan ORI030 tenor 6 tahun. Penyertaan masyarakat terhadap instrumen ini terus tumbuh, mencerminkan kepercayaan terhadap kebijakan keuangan negara dan ketersediaan produk investasi yang aman serta terjangkau.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Biaya Impor iPhone 18 Pro dan Duo dari Luar Negeri Terungkap
Pemilik iPhone 18 Pro dan Duo yang dibeli di luar negeri harus bayar bea masuk dan PPN hingga Rp8,1 juta, tergantung harga dan kurs pajak saat kedatangan.
22 September 2026

Prabowo Fokus Dorong Inovasi Tekstil dan Sepatu Berbasis Lokal
Presiden Prabowo memimpin rapat terbatas untuk perkuat industri tekstil dan sepatu melalui inovasi BRIN, termasuk kain dari limbah nanas dan sepatu murah untuk siswa kurang mampu.
22 September 2026

IHSG Melemah 1,30% di Awal Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,30% ke level 6.300 pada Selasa (22/9/2026), didorong oleh tekanan pasar global dan dinamika kebijakan dalam negeri.
22 September 2026

SILO Akuisisi 14 RS dari Lippo, Nilai Rp6,9 Triliun
PT Siloam International Hospitals Tbk resmi mengumumkan rencana akuisisi 14 rumah sakit dengan nilai total Rp6,9 triliun dari anak usaha First Real Estate Investment Trust.
22 September 2026
Berita Lainnya

Sindikat SIM Palsu di Riau Beroperasi Sejak Juni 2026
Selasa, 22 September 2026, 15.39 WITA

Xiaomi Siap Masuki Pasar Mobil Listrik Indonesia
Selasa, 22 September 2026, 15.39 WITA

Subsidi Tak Pasti, Penjualan Motor Listrik 2026 Terhambat
Selasa, 22 September 2026, 15.39 WITA

Penindakan Massal Beras dan Garam Ilegal di Empat Wilayah
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Prioritaskan UMKM dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Amran Minta Hukuman Berat untuk Pelaku Penyelundupan Beras Impor
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Tiga ASN Pertanian Tewas di Papua Tanpa Pengawalan
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Dunia Belum Konsisten, Indonesia Tetap Jalan ke Net Zero
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

