Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Tertekan 1,11% di Sesi I, BYAN Jadi Penyumbang Penurunan Terbesar

Indeks Harga Saham Gabungan melemah 1,11% atau 71,16 poin ke level 6.313,57 pada sesi perdagangan siang Selasa (22/9/2026), dipimpin penurunan saham Bayan Resources.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Tertekan 1,11% di Sesi I, BYAN Jadi Penyumbang Penurunan Terbesar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (22/9/2026), dengan turun 71,16 poin atau 1,11% ke posisi 6.313,57. Pergerakan ini terjadi meskipun indeks sempat bergerak positif di awal perdagangan, mencapai level tertinggi harian 6.423,84 sebelum kemudian terkoreksi tajam. Tekanan jual yang menguat memicu pelemahan indeks hingga menyentuh titik terendah di 6.277,68 sebelum memperbaiki posisi sedikit namun belum mampu kembali ke level pembukaan.

Kinerja pasar terpantau negatif dengan dominasi saham yang turun, mencatat 537 saham melemah, 269 stagnan, dan hanya 157 saham yang menguat. Sektor energi menjadi pemberat utama dengan penurunan 3,07%, disusul real estate turun 1,5% dan utilitas turun 1,2%. Volume perdagangan mencapai 19,64 miliar saham dengan frekuensi transaksi 1,249 juta kali dan nilai transaksi sebesar Rp7,97 triliun.

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan kontribusi bobot minus 16,71 poin, menyusut 7,81% ke level 12.100 setelah sebelumnya sempat mencapai 13.825 pada akhir pekan lalu. Diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan kontribusi minus 8,76 poin, serta Bumi Resources Minerals (BRMS), Telkom Indonesia (TLKM), dan Bumi Resources (BUMI) yang juga berada di posisi pemberat.

Sebaliknya, sejumlah emiten menjadi penopang koreksi, antara lain Amman Mineral Internasional (AMMN), Bank Central Asia (BBCA), Merdeka Gold Resources (EMAS), Indosat (ISAT), dan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta agenda dalam negeri, terutama Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang berlangsung hingga Rabu (23/9/2026).

Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, dengan deposit facility dan lending facility tetap di 4,75% dan 6,5%. Keputusan ini akan diumumkan setelah rapat dua hari yang dipimpin Gubernur BI definitif Destry Damayanti, yang baru dilantik pada 2 September 2026.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya