Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Tetap Kuat Hadapi Gejolak Global

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen di semester pertama, dengan proyeksi pertumbuhan 5,2 persen tahun depan meski menghadapi tekanan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 17.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Indonesia Tetap Kuat Hadapi Gejolak Global📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan global yang beragam, seperti kenaikan harga energi, dampak El-Nino terhadap pangan, serta kenaikan suku bunga di berbagai negara. Menurut analis ekonomi HSBC, pertumbuhan ekonomi pada semester pertama tahun ini mencapai 5,4 persen, dan proyeksi akhir tahun tetap berada di level yang sama. Untuk tahun depan, pertumbuhan diperkirakan sedikit melambat menjadi 5,2 persen, namun tetap dikategorikan sebagai pertumbuhan yang kuat dalam konteks ketidakpastian global.

Kebijakan pemerintah dalam mengelola harga energi melalui subsidi dan pengendalian harga di pasar domestik dinilai efektif, sehingga dampak kenaikan harga solar global tidak terasa berat bagi konsumen. Stabilitas harga ini menjadi faktor penopang utama kepercayaan pasar terhadap ketahanan makroekonomi. Di sisi lain, inflasi pangan tetap terkendali meski menghadapi tekanan dari fenomena El-Nino, berkat sistem distribusi yang lebih efisien dibandingkan periode sebelumnya.

Indonesia yang merupakan eksportir netto pangan turut terlindungi dari gejolak harga komoditas global. Meskipun masih melakukan impor untuk beberapa jenis pangan tertentu, keunggulan dalam produksi dan distribusi nasional meminimalkan ketergantungan impor. Hal ini menjadi keunggulan strategis dalam menghadapi risiko kenaikan harga pangan akibat perubahan iklim.

Di sektor keuangan, Indonesia telah terbiasa dengan suku bunga tinggi, sehingga sektor korporasi dan pemerintah telah membangun ketahanan dalam mengelola utang dan defisit anggaran. Konservatisme fiskal pemerintah selama bertahun-tahun memperkuat posisi keuangan negara, sehingga kenaikan suku bunga global tidak menjadi hambatan utama. Proyeksi HSBC menyebutkan Bank Indonesia hanya perlu menaikkan suku bunga acuan sekali lagi, bahkan jika Federal Reserve melanjutkan kenaikan lebih tinggi, Indonesia tidak perlu mengetatkan kebijakan moneter lebih lanjut.

Stabilitas nilai tukar rupiah dan defisit anggaran yang diperkirakan berada jauh di bawah target 3 persen tahun depan menjadi faktor penarik bagi aliran modal asing. Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi kembali aliran modal masuk ke Indonesia, menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi makro.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya