Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Juri BIFF Soroti Kebijakan Seni di Tengah Kontroversi Film

Dewan juri BIFF ke-31 menegaskan fiksi sebagai bentuk ekspresi kreatif, bukan alat politik, dalam menanggapi kritik terhadap film The Assassin(s) yang menyoroti peristiwa 1974.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 12.10 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Juri BIFF Soroti Kebijakan Seni di Tengah Kontroversi Film📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dewan juri Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 secara tegas menolak narasi bahwa karya sinematografi harus menjadi cerminan akurat dari sejarah. Dalam konferensi pers di Busan, para anggota juri menegaskan bahwa film adalah bentuk ekspresi yang berhak menantang persepsi, bukan sekadar dokumentasi peristiwa. Mereka menekankan pentingnya memisahkan karya fiksi dari interpretasi politik atau moral yang berlebihan, terlepas dari konteks sensitif yang diangkat dalam film.

Film *The Assassin(s)*, yang menggambarkan percobaan pembunuhan Presiden Park Chung-hee pada 1974 dengan akhir terbuka yang menyiratkan keterlibatan pihak berwenang, memicu gelombang protes dari kelompok konservatif. Respons tersebut berujung pada pembatalan pemutaran publik dan penarikan diri tim kreatif dari acara resmi, termasuk sutradara dan aktor utama. Pihak rumah produksi, Hive Media Corp, menarik permintaan pemutaran khusus atas dasar keamanan, menunjukkan dampak sosial yang luas dari karya fiksi yang berani membuka ruang diskusi.

Presiden juri, Zhang Yimou, yang pernah menghadapi larangan tayang di China karena karya bertema sejarah, menekankan bahwa seni harus berani berbicara di tengah ketegangan. Ia menyatakan bahwa meskipun belum menonton film tersebut, ia menghargai perbedaan respons sebagai bagian dari dinamika seni. Menurutnya, keberagaman pandangan justru memperkaya dialog budaya dan menunjukkan kekuatan film dalam menyentuh realitas masa kini.

Juri lain, July Jung, mengungkapkan pengalaman pribadi merasa terintimidasi oleh tekanan publik, meskipun bukan pembuat film. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab kreator terhadap dampak karya, tetapi menolak keputusan yang menghentikan ruang kreatif secara keseluruhan. Ia berharap masyarakat tetap membuka ruang bagi sinema sebagai medium refleksi sosial yang tidak takut menantang norma.

Dewan juri yang terdiri dari tujuh tokoh dari berbagai belahan dunia akan menilai 13 film dalam kategori utama untuk menentukan pemenang penghargaan tertinggi yang diakui oleh Academy Awards. Hasil penilaian akan diumumkan pada 15 Oktober, menjelang penutupan gelaran BIFF ke-31.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya