Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

KAEF Bangkit, Laba Semester I Tembus Rp54 Miliar

PT Kimia Farma (KAEF) mencatatkan laba bersih Rp54,07 miliar pada semester pertama 2026, hasil transformasi menyeluruh yang didukung pembenahan keuangan, digitalisasi, dan efisiensi operasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 19.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
KAEF Bangkit, Laba Semester I Tembus Rp54 Miliar
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Transformasi bisnis PT Kimia Farma (KAEF) telah menunjukkan hasil nyata setelah sejumlah perbaikan fundamental dilakukan secara sistematis sejak 2024. Dengan dukungan penuh dari Danantara sebagai pemegang saham pengendali, perusahaan kini bergerak di atas fondasi yang lebih stabil, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan finansial. Penekanan pada tata kelola perusahaan yang baik, penyesuaian portofolio produk, serta digitalisasi proses operasional menjadi pilar utama dalam perjalanan pemulihan KAEF.

Pencapaian terbaru terlihat dari tren penurunan rugi bersih yang signifikan—dari Rp842 miliar pada 2024 menjadi Rp334,9 miliar di 2025—dan kini berubah menjadi laba bersih sebesar Rp54,07 miliar pada semester I-2026. Pertumbuhan penjualan bersih mencapai Rp4,70 triliun, naik 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba usaha juga melonjak 111,3% menjadi Rp152,21 miliar, menunjukkan efisiensi operasional yang meningkat secara signifikan.

Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, menegaskan bahwa perbaikan yang dilakukan bukan sekadar koreksi, melainkan langkah preventif berkelanjutan. Ia menyebut bahwa keterbukaan terhadap kritik dari pemegang saham, termasuk pesan dari COO Danantara Dony Oskaria, menjadi fondasi penting dalam membangun budaya kerja yang lebih bertanggung jawab. Di antara langkah strategis adalah restrukturisasi produksi yang memfokuskan kapasitas pada produk unggulan bermargin tinggi dengan permintaan pasar yang terjamin.

Peningkatan utilisasi fasilitas produksi dan peningkatan penggunaan bahan baku obat dalam negeri menjadi bagian dari upaya menciptakan rantai pasok yang lebih kuat dan berkelanjutan. Di sisi lain, sistem pelaporan dan manajemen inventori anak usaha, Kimia Farma Apotek, telah sepenuhnya beralih dari catatan manual ke sistem IT terintegrasi end-to-end. Kini, ribuan gerai apotek tersebar di seluruh Indonesia dapat dipantau secara real-time, meningkatkan akurasi stok dan efisiensi distribusi.

Djagad menegaskan bahwa Kimia Farma baru bukan hanya soal keuangan yang membaik, tetapi juga komitmen untuk menjadi entitas yang berkelanjutan, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga momentum positif ini agar KAEF tetap menjadi tulang punggung ketahanan kesehatan nasional yang tangguh secara finansial dan operasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya