Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kapal Riset Rusia Disita di Svalbard atas Permintaan Ukraina

Norwegia menyita kapal riset Rusia Professor Molchanov di Svalbard atas permintaan perusahaan energi Ukraina, menegaskan ketegangan geopolitik di wilayah Arktik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 12.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kapal Riset Rusia Disita di Svalbard atas Permintaan Ukraina
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Kapal riset milik negara Rusia, Professor Molchanov, telah disita otoritas Norwegia di Barentsburg, kota Rusia di kepulauan Svalbard, berdasarkan perintah pengadilan yang dikeluarkan pada 31 Agustus. Penyitaan dilakukan atas permintaan Naftogaz, perusahaan energi milik negara Ukraina, sebagai bagian dari langkah hukum terkait klaim terhadap aset di wilayah Arktik. Kapal yang berlabuh di Barentsburg, wilayah yang diperintah Norwegia meski berada di bawah yurisdiksi internasional, kini dilarang bergerak hingga keputusan hukum lebih lanjut dikeluarkan.

Penyitaan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Moskow dan negara-negara NATO terkait dominasi dan akses di kawasan Arktik. Awak kapal dan penumpang, termasuk ilmuwan dan pekerja dari perusahaan Arktikugol, baru mengetahui kejadian tersebut melalui media, menurut laporan koresponden TASS yang ikut dalam ekspedisi. Tidak ada laporan cedera atau ancaman terhadap keselamatan mereka.

Menteri Rusia untuk Pembangunan Timur Jauh dan Arktik, Aleksey Chekunkov, menyatakan bahwa semua awak dalam kondisi aman dan menegaskan bahwa perusahaan Arktikugol akan segera mengajukan gugatan hukum terhadap keputusan penyitaan. Ia menekankan bahwa kapal tersebut beroperasi secara legal dan telah menjalankan fungsi penting sebagai sarana transportasi antara Murmansk dan Barentsburg sejak 2025.

Professor Molchanov, yang dioperasikan oleh Roshydromet, sebelumnya tidak hanya menjalankan misi ilmiah tetapi juga menjadi satu-satunya sarana transportasi laut reguler antara Rusia dan Svalbard sejak penerbangan langsung dihentikan pada 2020. Sebanyak 10 rute pulang-pergi dijadwalkan selama 2026, mencakup pengangkutan penumpang, logistik, dan peralatan penting bagi komunitas Rusia di wilayah tersebut.

Penyitaan kapal ini menyoroti kompleksitas hukum dan politik di kawasan Arktik, di mana aset milik negara berpotensi menjadi alat dalam konflik geopolitik. Meski tidak menimbulkan eskalasi militer, kejadian ini menjadi indikator kuat bahwa sengketa ekonomi dan yurisdiksi di wilayah kutub semakin intensif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya