Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kapal Rusia Disita di Svalbard untuk Bayar Ganti Rugi Krimea

Norwegia menyita kapal ilmiah Rusia di Svalbard sebagai bentuk penegakan putusan arbitrase atas kompensasi aset Ukraina di Krimea senilai US$4,22 miliar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 01.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Kapal Rusia Disita di Svalbard untuk Bayar Ganti Rugi Krimea
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Norwegia mengambil alih kapal ekspedisi ilmiah milik Rusia, Professor Molchanov, di Barentsburg, kepulauan Svalbard, sebagai respons terhadap putusan arbitrase internasional yang mengharuskan Moskow membayar ganti rugi kepada Naftogaz Ukraina. Penyitaan dilakukan pada 2 September, didasarkan pada perjanjian Svalbard 1920, yang memberi otoritas kepada Norwegia atas wilayah tersebut. Kapal yang beroperasi di wilayah Arktik itu, dibangun pada 1982 di Finlandia, kini menjadi aset yang akan dieksekusi untuk menutupi nilai kompensasi sebesar US$4,22 miliar atau sekitar Rp74,27 triliun.

Moskow menanggapi tindakan ini dengan protes tajam, menuding Norwegia melakukan tindakan pembajakan yang melanggar hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan aktivitas Rusia di Svalbard kini berada dalam kondisi terblokade secara hukum. Pemerintah Norwegia menegaskan bahwa penyitaan merupakan keputusan hukum yang berlaku terhadap aset milik negara atau organisasi Rusia, bukan bentuk konflik politik antar negara. Perintah penyitaan dikeluarkan oleh pengadilan distrik pada 31 Agustus dan ditegaskan oleh pihak gubernur Svalbard untuk diterapkan secara konsisten.

Naftogaz telah menempuh jalur hukum sejak 2016 untuk menuntut kompensasi atas asetnya yang disita Rusia setelah pendudukan Krimea. Pada April 2023, pengadilan arbitrase di Den Haag mengeluarkan putusan yang mengharuskan Rusia membayar sejumlah besar uang, termasuk bunga dan biaya hukum. Namun, Moskow menolak mengakui yurisdiksi pengadilan tersebut. Plt. CEO Naftogaz, Sergii Fedorenko, menegaskan bahwa Rusia tidak dapat menghindari kewajiban hukum hanya dengan menolak mematuhi putusan internasional.

Pihak pengacara Naftogaz, Clovis Trevino dari firma Covington, memperkirakan total kewajiban Rusia akan meningkat hingga sekitar US$6 miliar atau Rp105,6 triliun jika semua biaya ditambahkan. Ia menyatakan bahwa tujuan utama penyitaan adalah untuk memastikan aset dapat dilelang, sehingga dana bisa digunakan untuk mendukung pemulihan ekonomi Ukraina. Kapal yang tiba di Barentsburg pada 1 September membawa sekitar 80 orang, termasuk ilmuwan dan awak. Gubernur Svalbard, Lars Fause, menyatakan siap membantu penumpang dan awak kapal untuk kembali ke Rusia secara aman melalui komunikasi dengan pihak Barentsburg.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya