Kemenkes Siapkan Regulasi Perkuat Ekosistem Plasma Nasional
Kemenkes sedang menyusun regulasi untuk membangun ekosistem plasma nasional yang mandiri, berkelanjutan, dan mampu memenuhi kebutuhan terapi berbasis plasma bagi pasien dengan penyakit langka dan kronis.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 12.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan kerangka hukum untuk mendorong terbentuknya ekosistem plasma nasional yang kuat dan berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan sistem kesehatan Indonesia, khususnya dalam memastikan ketersediaan Produk Obat Derivat Plasma (PODP) yang aman, berkualitas, dan terjangkau bagi pasien yang membutuhkan. Dalam acara International Plasma Awareness Week 2026, Ketua Tim Kerja Kelainan Darah dan Gangguan Imunologi Kemenkes Aswardi menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem ini menghadapi tiga tantangan utama: keterbatasan sumber daya, rendahnya partisipasi masyarakat sebagai donor, serta kurangnya sinergi antar sektor.
Keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur menjadi penghambat utama dalam pengumpulan plasma secara massal. Tanpa akses yang memadai ke donor yang memenuhi kriteria, produksi PODP tetap terhambat. Di sisi lain, kesiapan masyarakat untuk menjadi donor plasma masih rendah, padahal kontribusi aktif dari warga merupakan kunci utama dalam menjaga kelancaran pasokan. Aswardi menekankan bahwa kesadaran dan pemahaman publik tentang pentingnya donor plasma harus ditingkatkan secara berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kemenkes Dita Novianti Sugandi Argadireja menyoroti bahwa plasma bukan sekadar komponen darah, melainkan sumber harapan bagi pasien dengan kondisi medis serius seperti imunodefisiensi primer, hemofilia, dan gangguan pembekuan darah. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan pasokan PODP akan menentukan kualitas hidup dan produktivitas pasien dalam jangka panjang. Karena itu, penguatan ekosistem membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, rumah sakit, unit transfusi, industri farmasi, komunitas pasien, dan masyarakat umum.
Proses donor plasma berbeda dari donor darah utuh, karena menggunakan teknologi apheresis yang memisahkan plasma dari komponen darah lainnya, sementara sisa darah dikembalikan ke tubuh donor. Plasma yang terkumpul mengandung protein penting seperti albumin, antibodi, dan faktor pembekuan yang dapat diolah menjadi berbagai produk terapi. Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi Teguh Triyono menekankan pentingnya edukasi publik mengenai proses donor dan manfaatnya bagi pasien. Ia menambahkan bahwa partisipasi masyarakat akan lebih stabil jika disertai informasi akurat, pengalaman donor yang nyaman, serta apresiasi yang layak.
Dukungan dari sektor swasta juga menjadi bagian penting dari upaya ini. Takeda, melalui jaringan BioLife global, berkomitmen membantu pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia sesuai standar internasional. Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences Andreas Gutknecht menyatakan bahwa produk derivat plasma menjadi penopang perawatan pasien dengan kondisi kompleks dan mengancam jiwa. Ia menilai, membangun kesadaran publik dan memperkuat ekosistem lokal merupakan langkah strategis untuk memperkokoh sistem kesehatan nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah DKI Percepat Proses Sertifikasi Tanah dalam 10 Hari
Gubernur DKI Jakarta menargetkan penyelesaian peralihan hak tanah dalam waktu maksimal 10 hari kerja melalui skema PERINTIS, dengan fokus pada integrasi data dan koordinasi antarlembaga.
8 Oktober 2026

NasDem Periksa Dugaan Usul Pemakzulan Gibran
Partai NasDem memastikan akan memverifikasi surat beredar yang menyebut anggotanya mengusulkan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, menyusul putusan MK yang menolak gugatan terkait syarat pencalonannya.
8 Oktober 2026

Prancis Rilis 10 Juta Barel Solar dari Cadangan untuk Stabilkan Harga BBM
Prancis menyalurkan 10 juta barel diesel dari cadangan strategis ke pasar dalam tiga bulan, sebagai respons terkoordinasi G7 terhadap kenaikan harga BBM akibat ketegangan Timur Tengah.
8 Oktober 2026

Program Makan Bergizi Gratis Jangkau 24 Ribu Siswa di Belitung
Program Makan Bergizi Gratis di Belitung berhasil menjangkau 24.000 siswa dari SD hingga SMA dengan dukungan 11 dapur operasional dan perluasan jangkauan melalui tiga dapur baru.
8 Oktober 2026
Berita Lainnya
Pemblokiran Situs Judi Online Dapat Dukungan dari Pengguna
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.22 WITA

Indonesia Siap Jadi Pusat Hilirisasi Mineral untuk Dukung AI Global
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.21 WITA

Penyaluran KUR dan UMi di Sultra Tembus Rp3,77 Triliun hingga September 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.20 WITA

Norwegia Ajukan Bantuan AS Selidiki Mantan Sekjen Majelis Eropa
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.20 WITA

Kapolda dan Wakapolda Metro Ucapkan Terima Kasih dan Permohonan Maaf Sebelum Mutasi
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.19 WITA

Polrestro Jakut Musnahkan Obat Ilegal Senilai Rp15 Miliar
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.19 WITA

Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Antam Paling Tinggi, Galeri24 Terjangkau
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.18 WITA

Danantara Tunda Setor Dividen ke APBN 2026 dan 2027
Kamis, 8 Oktober 2026, 12.18 WITA

