Sabtu, 19 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Khadam: Horor yang Terlalu Berbicara, Tapi Punya Pesan Kuat

Film horor Malaysia Khadam menawarkan narasi feminis dan kritik sosial mendalam, namun terbentur oleh ritme lambat dan penekanan visual berlebihan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 14.42 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Khadam: Horor yang Terlalu Berbicara, Tapi Punya Pesan Kuat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Khadam, film horor asal Malaysia, hadir dengan premis yang menjanjikan: kisah perempuan yang terjebak dalam lingkungan terisolasi dan menghadapi ancaman supernatural yang justru mencerminkan realitas kekerasan dalam rumah tangga. Dibintangi Aghniny Haque dan Remy Ishak, film ini menyuguhkan dinamika emosional yang intens, terutama dalam hubungan yang berubah dari cinta menjadi konflik penuh ketegangan. Namun, kekuatan narasi yang terusik oleh struktur cerita yang terlalu memanjang, membuat momentum menegangkan di awal film sulit dipertahankan hingga akhir.

Sutradara Shamyl Othman dan penulis Fariza Azlina berhasil menciptakan latar yang kental dengan nuansa sejarah, khususnya pada masa 1957, ketika Malaysia memasuki masa kemerdekaan. Penggunaan kostum, tata rias, dan properti memang mendukung keaslian waktu, namun pengolahan warna dengan tone kuning gelap dan kontras tinggi justru berlebihan. Hal ini justru mengaburkan pesan utama, seolah-olah menggantikan narasi dengan efek visual yang terlalu menonjol, tanpa perlu kehadiran teknis itu.

Pesan sosial dalam film—khususnya tentang penindasan terhadap perempuan, inklusivitas melalui bahasa isyarat, serta resistensi terhadap budaya patriarki—tampil sangat khas dan berani. Aghniny Haque tampil menonjol dengan peran yang menantang: bermain dalam kebisuan, menyampaikan emosi lewat bahasa isyarat, hingga adegan aksi fisik tanpa alas kaki. Kemampuan aktingnya yang mendalam menunjukkan transformasi signifikan sejak debutnya pada 2018, menandai potensi besar di ranah drama, laga, dan horor.

Namun, keberhasilan tema ini terkikis oleh pengelolaan durasi yang kurang efisien. Film berdurasi 118 menit terasa lebih panjang dari yang dibutuhkan, karena terlalu banyak ruang diberikan pada penjelasan latar dan dialog yang berulang. Jika ritme dipadatkan dan penekanan pada visual dikurangi, film ini bisa jadi lebih menyeramkan dan berdampak lebih besar. Kolaborasi antarfilm Asia Tenggara yang diusung Khadam juga patut diapresiasi, sebagai bentuk sinergi kreatif yang berpotensi membuka ruang baru bagi produksi bersama di kawasan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya