Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Komedian Turki Hadapi Sidang atas Dakwaan Hinaan Politik

Seorang komedian muda asal Turki diadili karena dianggap menghina presiden lewat pertunjukan satir yang viral, menimbulkan kontroversi soal kebebasan berekspresi di negara itu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 23.04 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 15x dibuka
Komedian Turki Hadapi Sidang atas Dakwaan Hinaan Politik📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang komedian berusia 32 tahun asal Turki, Deniz Goktas, menjalani sidang perdana di Pengadilan Caglayan, Istanbul, setelah ditahan selama 88 hari atas dakwaan menghina Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pertunjukan satir berjudul "Dead Sea" yang dibuatnya sebelumnya viral di YouTube dengan hampir sembilan juta tayangan, menjadi dasar penuntutan. Ia dituduh menyebarkan kebencian publik, memuji pelaku kejahatan, dan menghina pemimpin negara, ancaman hukuman yang bisa menjeratnya hingga sepuluh tahun penjara menurut perhitungan media lokal.

Dalam persidangan, Goktas membela diri dengan gaya komedi yang khas—penuh ironi dan kritik sosial—yang mampu membangkitkan tawa di ruang sidang. Ia menegaskan bahwa menyebut Erdogan sebagai "diktator pemalu" bukan bentuk penghinaan, melainkan karakterisasi politik yang lazim dalam diskusi publik. Menurutnya, kritik terhadap pemimpin yang telah memimpin Turki selama 25 tahun melalui partai berkuasa tidak bisa dihindari dalam bentuk satire.

Goktas menyoroti pergeseran dalam lingkungan kebebasan berekspresi di Turki, menilai bahwa kritik satir yang sebelumnya diterima kini menjadi ancaman hukum. Ia menegaskan bahwa humor adalah bagian dari budaya Turki sejak lama, dan tidak layak dikriminalisasi. "Para pemimpin harus mampu menerima lelucon," tegasnya, menegaskan bahwa keberadaan seni satire justru mencerminkan kesehatan demokrasi.

Pertunjukan tersebut dihadiri oleh rekan-rekan sesama komedian dari klub TuzBiber, tempat ia memulai kariernya pada 2019, serta perwakilan diplomatik dari Belanda dan Amerika Serikat. Di akhir pembelaannya, Goktas meminta pengadilan membebaskannya, dengan menyampaikan pernyataan penuh ironi: "Tiga bulan telah dirampas dari hidup saya. Saya sudah berhenti merokok, jadi saya akan menambahkan tiga bulan ke akhir hidup saya." Ucapan itu mendapat respons tawa dan tepuk tangan dari hadirin.

Penahanan Goktas dilaporkan terjadi di Penjara Keamanan Tinggi Karatepe, yang terletak sekitar 120 kilometer barat Istanbul. Ia dikurung dalam sel tipe "sumur" tanpa cahaya matahari, kondisi yang dikritik oleh aktivis dan warga sipil. Beberapa pendukung, termasuk seorang mahasiswa dari Alanya, menyatakan bahwa penangkapan tersebut justru memperkuat semangat mereka untuk terus berkarya. Salah satunya menyebut Goktas sebagai teladan keteguhan dalam menjaga kebebasan berpendapat meski dalam penjara.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya