Kunjungan ke Rusia Dorong Kerja Sama Ekonomi Strategis
Kunjungan Presiden Prabowo ke Vladivostok difokuskan pada pembukaan peluang ekonomi melalui diplomasi aktif berbasis kepentingan nasional.
Redaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 22.49 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia, bukan sekadar agenda diplomasi formal, melainkan strategi konkret untuk membuka akses ekonomi yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat. Dalam kesempatan tersebut, Presiden hadir sebagai tamu kehormatan pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11, di mana ia menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya kolaborasi global dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Kehadiran ini menjadi bagian dari pendekatan sistematis pemerintah dalam memanfaatkan forum internasional sebagai pintu masuk kerja sama strategis.
Pendekatan bebas aktif yang dianut Indonesia tidak hanya menempatkan negara sebagai pemain netral dalam dinamika global, tetapi juga sebagai pelaku aktif yang mengarahkan diplomasi untuk kepentingan nasional. Prinsip ini dijabarkan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, yang menegaskan bahwa setiap langkah diplomasi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam konteks kunjungan ke Rusia, hal ini tercermin dari upaya memperluas pasar ekspor, menarik investasi, serta memperkuat sektor pangan dan energi yang krusial bagi kemandirian ekonomi.
Rusia dipandang sebagai mitra strategis dengan potensi sumber daya alam besar dan posisi geopolitik yang menentukan. Dalam forum EEF, Presiden Prabowo mengajak pelaku usaha global untuk menanamkan modal di Indonesia, khususnya dalam sektor industri hijau dan infrastruktur. Ia juga mendorong percepatan kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia, yang diharapkan mampu meningkatkan nilai perdagangan bilateral dan membuka akses ke pasar dengan populasi hampir 290 juta konsumen.
Selain perdagangan dan investasi, fokus utama lainnya adalah kolaborasi di bidang pangan dan energi. Kedua sektor ini menjadi fondasi dalam menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Kerja sama dengan Rusia di kedua bidang dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan bahan baku dan stabilitas harga, sekaligus memperkuat industri dalam negeri. Hasil dari kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Diplomasi luar negeri dan penyelesaian isu domestik, menurut pihak pemerintah, bukan dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu tujuan: kesejahteraan rakyat. Setiap kebijakan luar negeri dirancang agar mampu berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan ketahanan nasional. Dengan demikian, diplomasi bukan hanya soal posisi geopolitik, tetapi juga alat untuk mendorong investasi, memperkuat industri, dan menjaga kemandirian pangan serta energi, sehingga masyarakat menjadi penerima manfaat utama dari setiap langkah strategis luar negeri.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


