Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kurang Tidur 5 Jam Harian, Apa Dampaknya bagi Tubuh?

Tidur lima jam per malam secara rutin tidak memenuhi kebutuhan optimal, berpotensi memicu berbagai risiko kesehatan jangka panjang meski tubuh terasa terbiasa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 15.38 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kurang Tidur 5 Jam Harian, Apa Dampaknya bagi Tubuh?📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Banyak orang di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara, telah menjadikan tidur lima jam sebagai pola harian tanpa menyadari dampak jangka panjangnya. Meski merasa tetap produktif dan tidak mengantuk, kondisi ini justru menandakan tubuh beradaptasi dengan kekurangan istirahat, bukan berfungsi secara optimal. American Academy of Sleep Medicine menegaskan bahwa dewasa membutuhkan minimal tujuh jam tidur setiap malam untuk menjaga keseimbangan fisiologis dan kognitif.

Kurang tidur secara konsisten mengganggu fungsi otak, termasuk penurunan kemampuan konsentrasi, penundaan reaksi, serta penurunan akurasi dalam pengambilan keputusan. Studi dari National Heart, Lung, and Blood Institute menunjukkan bahwa kekurangan tidur satu hingga dua jam per malam selama beberapa hari dapat mengurangi efisiensi kerja hingga setara dengan tingkat kelelahan setelah 24 jam tanpa tidur. Kondisi ini meningkatkan risiko kesalahan, bahkan kecelakaan kerja atau transportasi.

Dalam jangka panjang, tidur kurang dari tujuh jam secara rutin dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes tipe 2, obesitas, penyakit jantung, dan stroke. Selain itu, sistem imun juga terganggu, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Tidur juga berperan penting dalam menurunkan tekanan darah; tanpa tidur cukup, tekanan tetap tinggi lebih lama, membebani jantung dan pembuluh darah.

Perubahan metabolisme juga terjadi pada individu yang hanya tidur lima jam. Penelitian dari National Institutes of Health mengungkapkan bahwa kurang tidur mengurangi sensitivitas insulin dan meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori, terutama di malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa kurang tidur bukan sekadar menyebabkan kantuk, tetapi juga mengganggu pengaturan energi dan nafsu makan.

Meskipun tidur lima jam sesekali tidak membahayakan, menjadi kebiasaan harian berisiko tinggi. Kunci penilaian kualitas tidur bukan hanya apakah seseorang bisa bangun, tetapi bagaimana kondisi tubuh setelah bangun—apakah masih mengantuk, sulit fokus, mudah marah, atau bergantung pada kafein. Solusinya, mulai dari memperpanjang waktu tidur secara bertahap, menjaga konsistensi jadwal bangun dan tidur, paparan cahaya alami di pagi hari, serta mengurangi paparan layar sebelum tidur.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya