Lifting Migas 2027 Disepakati di Rp1,564 Juta BOEPD
Komisi XII DPR dan Kementerian ESDM menyetujui asumsi lifting migas 1,564 juta barel setara minyak per hari untuk RAPBN 2027, didukung anggaran Cost Recovery US$ 10,1 miliar dan harga minyak mentah rata-rata US$ 75 per barel.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 14.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Komisi XII DPR RI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui rancangan asumsi dasar sektor energi dan mineral dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027. Penetapan ini mencakup target produksi migas, alokasi subsidi BBM dan LPG, serta estimasi nilai subsidi listrik nasional. Kesepakatan ini menjadi fondasi penting dalam perencanaan keuangan negara untuk mendukung stabilitas energi dan kinerja sektor hulu.
Target lifting migas pada 2027 diusulkan mencapai 1,564 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), terdiri dari produksi minyak bumi dan kondensat sebesar 612.500 barel per hari serta gas bumi sebesar 954.000 BOEPD. Meskipun angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan target tahun 2026 yang mencapai 1,59 juta BOEPD, pemerintah menilai target tersebut realistis dan mampu menjamin kinerja operasional yang optimal dari pelaksana hulu, khususnya SKK Migas.
Dalam rapat kerja dengan Wakil Menteri ESDM, Ketua Komisi XII Melchias Marcus Mekeng menekankan pentingnya akuntabilitas dan efisiensi dalam penggunaan anggaran. Ia menyoroti perlunya peningkatan kinerja Direktorat Jenderal Migas dan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, terutama dalam memastikan alokasi dana sebesar Rp11 triliun lebih untuk migas serta subsidi listrik sebesar Rp117,84 triliun benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pemerintah juga mengusulkan anggaran Cost Recovery sebesar US$ 10,1 miliar untuk mendukung operasional hulu migas, sementara harga minyak mentah Indonesia (ICP) ditetapkan pada level US$ 75 per barel. Angka ini dipandang sebagai estimasi yang seimbang mengingat ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang terus menggerakkan fluktuasi harga minyak dunia.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran solar B50, memicu minat belajar dari Jepang hingga negara Eropa terkait implementasi dan regulasinya.
9 September 2026

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Pemadaman listrik berkepanjangan selama 48 jam di Gambia memicu unjuk rasa besar-besaran di Banjul dan daerah lain, dengan massa menuntut presiden Adama Barrow mundur, sementara pihak berwenang mengaku penyebabnya adalah lonjakan beban dan gangguan teknis.
9 September 2026

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Ratusan warga eks bantaran rel Senen kini tinggal di hunian sementara yang disediakan pemerintah, menandai realisasi program relokasi dan penataan kawasan.
9 September 2026

Pemerintah Siapkan Rp17 T untuk Bansos Beras Hingga Akhir 2026
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp17 triliun untuk penyaluran bantuan beras 30 kg per keluarga penerima hingga akhir 2026, dengan distribusi secara rutin dan terkonsentrasi.
9 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Data Ekonomi India Dikritik, Mantan Pejabat Sebut Manipulasi Sistemik
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA


